100_2062

 

 

 

 

 

 

Semasa kuliah dulu, saya hobi membaca artikel-artikel karier di majalah wanita terkemuka. Salah satu kiat dasar yang saya ingat benar adalah bekerja secara fleksibel. Tidak perlu saklek pada job description, sekiranya memungkinkan untuk membantu divisi lain atau melakukan hal yang tampak “remeh” selama tidak mengganggu tugas utama. Membatasi diri bisa merugikan, misalnya terlihat malas sewaktu tugas pokok rampung dan tidak melakukan apa-apa di kantor.

Ternyata resep itu (ditambah sedikit praktik di waktu ngantor) menjadi bekal penting setelah saya sepenuhnya menjadi pekerja lepas pun. Walau sebutannya pekerja lepas, ada kemiripan dengan kantor yang harus saya tangani sendiri. Urusan-urusan “kecil” yang menuntut saya meluangkan waktu seperti mengirimkan kembali buku materi ke penerbit, penandatanganan SPK, mencatat follow-up administrasi, dan kadang memperbarui contact person apabila yang bersangkutan resign atau cuti panjang.

Yang berkaitan langsung dengan naskah ada juga. Antara lain mem-print softcopy ketika saya belum menggunakan dua monitor dan menerapkan Extended Display, juga tetek bengek format naskah. Softcopy tidak berarti bebas kerepotan. Beberapa kali menggunakan scanner dan OCR membuktikan tiada teknologi yang sempurna. Anda yang memakai fitur ini tentu tahu bahwa adakalanya gambar menjadi gelap atau paling sering, teks terpenggal dan tidak jelas.

Inilah saat-saat saya berterima kasih atas didikan orangtua di masa kecil. Saya kerap diminta membaca surat-surat bertulis tangan dari kampung halaman atau saudara-saudara lain yang berhuruf sambung untuk nenek. Tidak jarang memakai ejaan baheula pula. Jadilah saya mengurek-urek mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud rangkaian huruf tersebut. Hasil OCR pun agak mirip, layaknya misteri:D

Saya pernah mendapati tulisan “digital too/to” di satu catatan kaki hasil OCR tadi. Dugaan saya “digital tool”, dan benar. Tapi bukan berarti saya tak pernah meleset. Sewaktu mencocokkan dengan gambar utuh yang dikirimkan lewat PDF oleh editor, ternyata “anginal” sesungguhnya “original”. Pantas saya pusing menerjemahkannya karena tidak bunyi-bunyi:))

Singkat kata, hal-hal “sampingan” yang tampak merepotkan ini menguntungkan karena toh keahlian kita bertambah (spesifiknya pengetahuan teknis). Lagi pula, seru juga kok:D

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)