Saya sangat bersepakat dengan Retno yang berucap, “Semua orang kan diberi waktu 24 jam oleh Allah.”

Ini masalah klasik. Betapa mudahnya kita (atau saya, deh) mengkhayalkan waktu ditambah menjadi 25 jam, bahkan 27 sehari. Dengan anggapan, atau harapan, pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Tetapi ada masanya, pekerjaan atau hal tertentu bisa dirampungkan lebih awal, sehingga saya mulai berpikir bahwa tanpa niat dan tekad, dilebihkan berapa jam pun tak akan membantu. Kalau biasa dan hobi molor, ya tetap molor. Sebab alasan paling mudah dibuat. Sebab menunda selalu menggoda, meski tahu itu berarti mencuri waktu.

Yang saya alami, masih terkait pekerjaan, kadang setelah diberi perpanjangan malah bisa bersicepat dan bergegas. Diberi kesempatan mundur dua minggu, tiga hari sudah tuntas. Kelegaan hatilah yang mempermudahnya. Seperti kata seorang teman, “Kalau masih sempat ngetwit/bikin status, berarti masih luang waktunya.” Atau kata Nur Aini, “Kalau masih sempat cemas, berarti belum mepet-mepet amat.” Juga perkataan Retno, “Daripada energinya habis buat cemas, mending buat nerjemahin. Bisa dapat satu paragraf.”

Karena itu tidak berlaku juga “teori” bahwa yang masih lajang lebih beruntung/luang daripada yang sudah menikah dan punya anak (bahkan lebih dari satu). Seorang teman karib saya belum berkeluarga, dengan segala hormat, waktu senggangnya adalah milik sang ibu yang beranjak sepuh dan kondisi kesehatannya menurun. Saya pernah tertohok ucapan seorang kolega penerjemah ketika tahu saya membuat catatan koreksi, “Punya banyak waktu sih, ya?” Tak apalah. Saya juga pernah salah mengira orang kantoran lebih leluasa, padahal di akhir pekan ia mengantar-antar anak les atau mencuci pakaian karena tidak punya ART, atau punya bisnis yang harus dipantau:).

Bicara pengelolaan waktu, larinya ke skala prioritas juga. Klise tapi demikianlah. Prioritas tiap orang lain-lain. Ada yang bisa santai “ngabur” berlibur kendati pekerjaan belum 50 persen, ada yang mengurangi pertemuan dan acara sosial (rapat, arisan, dll) selagi belum tune in, ada yang menerjemahkan diselang-seling menulis atau mengerjakan tugas kuliah, ada yang seperti saya: kadang baru sadar piring kotor sudah menggunung ketika ada sindiran halus, “Wah, sendok habis ya.” Dan mengabaikan timbunan setrikaan di pojok ruangan, hanya nyengir jika orangtua bertandang lalu geleng-geleng sambil berdecak.

Tidak ada kiat khusus untuk urusan waktu. Saya hanya berusaha tenang saat berbagai distraksi muncul, tidak terlalu keras pada diri sendiri, kendati tak selalu berhasil. Saya menyetujui opini Pollyanna dan masih belajar fleksibel dengan menerapkan manajemen energi.

Apa yang cocok buat saya, belum tentu pas bagi Anda. Terima kasih telah menyimak.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Tentang Membagi Waktu ”

  1. gravatar nung Reply
    June 4th, 2012

    hehehe … aku paling cepet bosen kalo dapet editan yg berat …. baru dua halaman udah kedistrak …
    balik lagi … distrak lagi …
    kalau mbak rin dapat sindiran halus, kalau aku, dia mendiamkan … sampai akunya ngeh kalo dia protes hehehe ….

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 5th, 2012

      Distraksi bagiku selalu datang bagaimanapun wujud kerjaannya, Nur, hihihi…
      Hanya didiamkan? Berarti hemat energi juga ya, kalau ngomel memang capek sih:D
      Sekarang yang masih perlu ditangani, kalau salah satu sibuk, satunya merasa diabaikan. Dua-duanya sibuk, rumah makin acak-acakan:))

Leave a Reply

  • (not be published)