bebuku

Di Page FB English Literature, ada pertanyaan, “Who’s your favorite female writer?”

Sebelum menuju pertanyaan spesifik itu, saya lihat-lihat lagi lemari buku. Kalau penulis favorit berarti bukunya paling banyak saya koleksi (tanpa memandang pria atau wanita), jawabannya antara lain Sidney Sheldon, Mary Higgins Clark, Pearl S. Buck, Enid Blyton, Jacqueline Wilson, dan Stephen King. Namun bila tolok ukurnya yang paling banyak dibaca, sudah pasti Enid Blyton. Masalahnya, sering membaca tidak berarti suka. Seperti “kecanduan” yang kadang tidak jelas alasannya.

Dalam suatu bincang-bincang dengan tim editor sebuah penerbit, saya menyetujui pernyataan salah satu editor tentang fleksibilitas selera membaca. Menurut penilaian subjektif pembaca, tidak semua karya satu penulis memenuhi ekspektasinya (sehingga lahirlah pendapat yang ini oke, tapi yang itu kurang bagus). Hal ini berlaku untuk penulis yang konsisten di satu genre/tema sekalipun. Banyak faktor penyebabnya, bersifat dugaan dan kemungkinan, tidak akan saya bahas.

Sebut saja satu contoh, karya Neil Gaiman. Saya sangat menyukai Stardust, bisa menikmati Anansi Boys dan Neverwhere, namun kesulitan memahami Good Omens. Bukan salah penulisnya, kadang-kadang ada tema yang membutuhkan waktu dan energi ekstra untuk mencerna. Tinggal saya mau mengupayakan itu atau tidak. Jujur saja, bila tidak menekuni pekerjaan yang berkaitan dengan perbukuan, saya mungkin kesulitan menetapkan prioritas membaca sebab saya bukan tipe yang mewajibkan diri membaca buku yang sedang tren atau baru terbit. Apalagi begitu banyak buku terbit dalam waktu bersamaan, pilihan semakin berlimpah, sedangkan terbitan lama pun tidak sedikit yang belum saya baca (katakanlah semasa saya SMA atau kuliah).

Sejauh ini, penulis favorit saya masih Sidney Sheldon. Barangkali telah berpulangnya beliau memengaruhi keistimewaan tersebut. Namun ada unsur personal yang lebih kuat karena saya diperkenalkan pada buku-bukunya oleh almarhum Bapak, bahkan Tell Me Your Dreams membantu saya menjalani kejemuan tatkala diopname. Novel itu paling sering saya baca sampai lecek. Ketika salah satu buku kesukaan saya, Bloodlines, hilang, saya berusaha sedapat mungkin untuk membeli lagi. Seken tidak jadi masalah, karena isinyalah yang penting. Kerap kali kala murung, suntuk, dan terbentur sesuatu yang membuat ingin “menyerah”, saya membaca ulang memoarnya. Belakangan bertambah dengan seniman novel grafis Kim Dong Hwa ^_^

Penulis wanita yang saya senangi Mary Higgins Clark, Jacqueline Wilson, Enid Blyton, Sophie Kinsella, saya juga suka beberapa karya Chitra Banerjee Divakaruni. Tampaknya jumlah penulis wanita terus meningkat sehingga saya kesukaran “mematok” yang difavoritkan. Tetap saja tergantung ide cerita dan gaya tutur.

Harus diakui, kenikmatan menjadi penyunting dan penerjemah termasuk membaca “gratis”. Meski ingin menggarap buku-buku karya penulis terkenal atau yang saya favoritkan, terbukanya pintu kesempatan mengenal dan menyelami karya-karya mereka yang belum pernah saya dengar namanya sangat menyenangkan.

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)