Terus terang, ini pengalaman Mas Agus yang pertama. Sebelumnya, dia baru menangani proofread buku nonfiksi.

Kami mengenal nama Bentang sejak masih ‘Bentang Budaya’ dan belum bergabung dengan Mizan. Sekitar tahun 1999, kami pernah mengikuti tes penyuntingan naskah terjemahan di milis pembaca bentang (saya lupa nama persisnya). Cukup berat dan kami tidak lolos.

Karena itu, sungguh menggembirakan ketika Bentang mengumumkan pembukaan lowongan proofreader freelance sekitar akhir tahun kemarin. Dari ratusan pelamar, suami termasuk 21 orang yang terpilih mengikuti tes tahap 1. Susah? Jangan ditanya. Proofreader memang membutuhkan ketelitian luar biasa. Oleh sebab itu dia membaca ulang soal dan membaca kembali jawaban sesuai panduan yang diminta. Kalau tidak salah, ada teks dari terjemahan dan ada pula yang lokal. Alhamdulillah dia kembali tercantum dalam daftar 10 orang yang lulus tahap akhir.

Proyek pertama Mas Agus adalah novel Muhammad 2, Para Pengeja Hujan ini. Dia belum pernah membaca karya Tasaro, demikian pula saya waktu itu, meski mempunyai beberapa bukunya di rumah. Saya pun bercerita mengenai seorang kolega editor yang ‘ngebut’ membaca buku pertama sebuah trilogi terkenal tatkala diserahi tugas menangani proof buku keduanya. Mas Agus melakukan hal serupa. Dikarenakan jadwal terbitnya mendesak, harus selesai seratus halaman per hari. Pihak editor sangat penuh pengertian dan santun menanyakan lebih dulu apakah dia juga bisa setor hasil pada hari Minggu. Lebih menyenangkan lagi, keharusan menyeragamkan istilah (konsistensi) sebagaimana kewajiban pemeriksaan naskah seri menjadi ringan karena editor mengirimkan daftar catatan buku terdahulu.

Dia tidak memeriksa keseluruhan bab (sekitar beberapa di muka dan di akhir saja) sehingga belum membaca secara utuh. Namun pengalaman ini sangat mengesankan. Dan bukan kebetulan, dia pikir, jika menurut saya, ini jawaban yang bisa ‘memuaskan’ keluarga besar kami karena ada pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang akademiknya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)