Photo by Ronald Koster Text: Unknown

Photo by Ronald Koster. Text: Unknown

Sering ketika blogwalking atau membaca note di Facebook dan jejaring sosial lainnya, saya mendapati komentar, “Waah, panjang sekali tulisannya!” Saya pribadi tidak “alergi” akan hal itu, sejauh pembahasannya jelas, tidak berputar-putar, karena memang banyak yang perlu disampaikan lebih rinci. Malah saya pernah heran oleh pertanyaan seseorang yang memilih bolak-balik “mencicil” kendati sudah saya tunjuki beberapa link blog yang bisa dibaca lengkap. Alasannya, “Terlalu banyak informasi, aku jadi bingung.”

Barangkali beda zamanlah penyebabnya. Saya termasuk yang malas membaca situs berita kalau tidak ingin tahu benar. Kerap kali, baca judul artikelnya saja sudah cukup. Bila mendapati tulisan panjang sedangkan waktu bacanya sempit, tinggal menerapkan jurus yang diajarkan guru bahasa Indonesia dulu. Cari kalimat utama, pikiran utama, pikiran penjelas.

Di dunia blog sekarang ini, sisipan foto dan gambar kadang menjadi penghias agar tulisan panjang tak jadi membosankan. Nahasnya, aksesoris itu bisa menjadi distraksi atau bahasa gaulnya “salah fokus”. Seperti ketika saya membaca suatu artikel cukup panjang di sebuah situs belum lama ini.

Penulisnya cukup cerdik, membagi artikel menjadi beberapa pecahan (lazim ditemui di artikel 7 Kiat Membereskan Rumah, misalnya). Toh reaksi pengunjung, berdasarkan komentar langsung di situs dan share mereka di jesos, tidak terarah pada konten tulisannya melainkan foto dan hal-hal lain yang tidak nyambung. Di bagian tengah artikel, yang mungkin dilewatkan pembaca, ada kalimat penting yang menarik buat saya. Yakni contoh suatu kesalahan langkah dan cara mengatasinya.

Mungkin memang “musim” orang merasa tersesat dalam bacaan yang panjang. Mungkin menarik minat baca detail di dunia maya sungguh sulit sekarang ini, lihat saja uraian terperinci informasi lomba masih bertaburan komentar, “Aku liat dari HP, ini apa siih?” atau pertanyaan-pertanyaan lain padahal jawabannya sudah tertera komplet di informasi tersebut.

Kesal sih iya. Namun adakalanya “salah fokus” itu bisa dimanfaatkan. Ketika ingin menyampaikan sesuatu yang berpotensi “riskan”, tulis sepanjang mungkin dan tambahkan subtopik lain. Dijamin ada pembaca yang terbelokkan. Buat judul yang biasa-biasa saja, seperti judul tulisan ini. Kemudian tulis dengan nada yang datar pula, bukan heboh dan dramatis.

Apakah ini berarti tulisan panjang tidak baik? Saya yakin tidak:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)