cari2

Alkisah, suatu ketika saya tengah jenuh bertemu naskah fiksi. Saya sudah menguranginya di segi terjemahan, kendati menyunting fiksi pun kadang-kadang mengharuskan saya menerjemahkan juga. Lalu seorang editor menyodorkan proyek terjemahan fiksi, hanya saja genrenya relatif jarang saya sentuh. Bahkan bisa dikatakan saya rada “ngeri” merambahnya karena pengalaman beberapa tahun ke belakang.

Namun kali ini berbeda. Demi mempertahankan napas sang pengarang yang begitu kuat dan khas, saya diperbolehkan menggunakan gaya yang cenderung leluasa. Artinya, kadang-kadang saya bisa “menciptakan” kata baru atau “berbelok” dari aturan KBBI. Pakem yang paling harus dipegang adalah gaya naskah asli, pokoknya sedekat mungkin pada pengarang.

Saya manggut-manggut dan bergulir mengerjakannya karena berpikir pengarang ini mengasyikkan dan “beruntung” sekali. Adakalanya tiga halaman penuh dialog sehingga jelas saya bisa cepat menggarap. Saya juga ngiri berat sekaligus menikmati di bagian-bagian dialog yang “melanggar” tatabahasa, tanpa tanda petik. Bahkan acap nongol begitu saja dalam narasi. Menurut saya itu meringankan penerjemah dan editor juga, selain “nyeni”.

Terjemahan yang setia ternyata bisa menyegarkan. Ambil contoh ketika bertemu dialog semacam ini (teksnya hanya karangan saya):

“Dia tidak ada di sini. Pulang saja.”

“Aku akan tunggu.”

“Tapi kau tidak boleh masuk.”

“Tak masalah.”

Dalam tatapenyuntingan yang umum, baik dalam naskah lokal dan terjemahan, biasanya ini harus diperjelas supaya pembaca tidak bingung. Apakah menambahkan kata ganti, kalau perlu menambahkan siapa yang menuturkan. Namun naskah ini dibiarkan sepenuhnya, membuat saya tersenyum-senyum seperti menghadapi misteri. Tentu bukan berarti saya tidak harus tahu siapa yang menyampaikan kalimat pertama, kedua, dan seterusnya.

Di awal, guna memastikan editor setuju akan gaya yang saya pakai, saya perlihatkan dulu beberapa halaman hasil. Setelah beliau bilang suka, barulah saya pede dan meluncur dengan sukacita.

Genre apa? Nanti Anda akan tahu bila sudah terbit:)

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)