Kalau mau diplomatis, semua terjemahan yang saya garap mengandung nilai positif dan menyenangkan. Tapi saya hendak jujur di sini, bercerita tentang yang paling berkesan secara personal.

Marriage Bureau for Rich People (Biro Jodoh Untuk Kaum Elite)

Saya sampai bela-belain bikin video trailer-nya segala.

Ini novel India pertama yang sampai ke meja kerja saya, ketika saya sedang “ngidam-ngidamnya”. Drama India kontemporer yang sangat kental dengan nilai-nilai keluarga. Penerjemahannya terhitung lancar dan cepat, walau bukan berarti tanpa koreksi. Respons pembaca membuat saya terharu, bahkan ada yang berkata, “Pengen meniru Aruna yang patuh pada orangtua.” Walau tak dilanjutkan penerbitannya, saya bahagia karena memiliki seri novel Farahad Zama ini secara lengkap.

 

Blood of Flowers

Dari segi cerita, novel Iran ini “mengerikan”. Mencekam, mempermainkan emosi, dan melelahkan batin. Baru sebentar karakter utamanya menghela napas, datang musibah bertubi-tubi. Hidupnya sungguh berat. Saya ikut tegang sewaktu suatu perkara membuatnya bertengkar hebat dengan sahabat karibnya.

Kalau dilihat-lihat lagi, terjemahan saya yang tidak jadi terbit ini pun masih kurang rapi. Tetapi saya banyak belajar tentang kisah penenun permadani yang getir dan pergolakan batinnya, seperti ini:

Memang kenyataannya tidak demikian. Punggungku sakit, kakiku masih kaku, dan aku kurang tidur selama satu bulan. Kupikirkan semua kerja keras dan penderitaan yang tersembunyi di balik sebuah permadani, mulai dari bahannya. Lahan-lahan luas yang ditanami bunga harus dibinasakan untuk membuat celupan, ulat yang tak berdosa direbus hidup-hidup untuk diambil sutranya, dan bagaimana dengan para penenun? Haruskah kami mengorbankan diri demi permadani?

Sering kudengar kisah mengenai wanita-wanita yang menjadi cacat karena terlalu lama duduk di belakang mesin tenun, sehingga ketika mereka hendak bersalin, tulang-tulang memenjarakan si bayi di dalam. Pada kasus tersebut, ibu dan anak akan meninggal setelah menderita berjam-jam lamanya. Bahkan para penenun termuda mengalami sakit punggung, kaki bengkok, jemari letih, dan mata berkantung. Semua upaya kami adalah demi keindahan, tetapi terkadang nampaknya setiap helai benang di permadani dicelup dalam nestapa bunga-bunga.

Paling istimewanya, novel ini dituturkan dari sudut pandang “aku” dan tak sekalipun pengarang menyebut nama sang karakter sentral.

 

Pollyanna

Jujur, masih sulit bagi saya mencari sisi baik setiap kejadian yang mengesalkan. Saya belum sepiawai Pollyanna dalam hal itu, meski masih berusaha terus:D Novel klasik ini cukup bersambut, sependek pengetahuan saya, dan sempat dicetak ulang pula. Juga dikutip dan dijadikan dialog oleh seorang penulis cilik dalam novelnya.

 

City of Masks

… dan dua buku lanjutannya yang tidak jadi terbit. Yang paling merebut hati memang buku perdananya itu. Saya amat menikmati ceritanya sehingga bisa menyelesaikan terjemahan dalam tempo relatif singkat. Benar-benar seperti membaca saja, belum lagi keramahan Mary Hoffman yang bahkan berbaik hati mem-follow back Twitter saya meskipun jarang sekali saya menulis dalam bahasa Inggris di sana. City of Stars dan City of Flowers tak kalah memesona, “membekas” karena jarang sekali saya suka fantasi remaja. Mungkin karena nuansa maskulinnya kuat, dan seri ini membuat saya sadar akan ketertarikan pada sejarah dan politik.

Hampir semua karakter remajanya saya suka, termasuk Arianna dan Luciano. Namun yang saya favoritkan benar adalah Rodolfo dan Duchess Silvia Bellini. Perwatakan mereka sangat kuat.

 

When God was A Rabbit

Terjemahan novel ini lahir dari hati saya, benar-benar drama keluarga yang “saya banget” dan satirnya tak terlupakan. Walaupun kritikan pedas yang saya terima dari beberapa pembaca cukup pedih, saya anggap saja “bahasa” hati saya lain dengan mereka. Baru-baru ini Rabbit dibaca oleh seorang editor in house dan penerjemah berpengalaman, yang memberi saya masukan-masukan konstruktif tentang kata ganti. Di luar itu, Sarah Winman amat menginspirasi, saya mengagumi cara tuturnya, dan ia layak memperoleh sekian banyak penghargaan.

 

Bumiku Masa Depanku

Buku sains Prancis yang amat layak diperjuangkan dalam perjalanan kepenerjemahan saya. Temanya berat, tapi alhamdulillah saya dapat menyelesaikannya tepat waktu. Kira-kira 200-an halaman selama satu bulan lebih sedikit. Buku yang luar biasa. Belum tentu stamina saya yang sekarang mampu menggarap secepat itu.

 

Dark Places

Cita-cita saya menerjemahkan horor tercapai sudah. Pembatalan penerbitannya pun tidak membuat saya menyesal, karena saya yakin akan terbuka pintu-pintu lainnya menuju genre kesukaan saya itu. Masih teringat betul asyiknya diskusi dengan Retno, yang memberikan penilaian kepada penerbit dalam pre-publishing review. Kesan lebih detail telah saya tulis di sana. Baru saja saya temukan book trailer yang sangat mewakili cerita buku keren peraih Black Quill Award for Black Genre Novel ini.

Saya jadi ngefans Gillian Flynn walau belum sempat menemukan buku-bukunya yang lain. Ikut senang karena karya terbarunya, Gone Girl, menangguk sukses, dan akan dilayarlebarkan seperti Dark Places ini🙂

[sws_related_post]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Terjemahan Paling Berkesan ”

  1. gravatar Sinta Reply
    April 15th, 2013

    Blood of flowers, penulis dan terbitan mana Mbak?

    • gravatar Rini Nurul Reply
      April 15th, 2013

      Penulisnya bisa diklik di link judul, Sinta. Ini nggak jadi terbit, seperti sudah kutulis di atas. Penerbitnya tutup.

Leave a Reply

  • (not be published)