Sumber

 

Saya baru nonton Season 1. Itu pun baru beberapa.

Tidak seperti Newsroom dan seri lainnya, saya tidak menaruh simpati pada kedua karakter sentral: Bones alias Temperance Brennan dan Booth. Mungkin mirip CSI, kadang karakter pendukunglah yang lebih menyita perhatian. Dalam hal ini Hodgins, sang seniman yang paling “manusia” yakni Angela, dan mantan mahasiswa Bones yang cerdas namun lugu, Zack Addy. Bahkan bos mereka, Dr. Goodman, sangat menginspirasi dalam banyak hal.

[sws_green_box box_size=”100″] Sedikit catatan: saya baru sadar bahwa cara paling nyaman nonton seri bertokoh banyak dan episodenya banyak pula adalah tidak berusaha menghafal nama karakternya. Apalagi nama asli pemain. Otak jadi tidak terlalu dibebani, cukup menikmati cerita dan menyerap pengetahuan baru saja. [/sws_green_box]

Awalnya, saya menduga Bones akan seperti CSI dipadu Lie to Me. Sebelum ini, saya menyerah nonton Dexter karena benar-benar tidak tahan cipratan darah. Salah sendiri memang, tidak cari tahu dulu. Ternyata dia ahli forensik spesialis percikan darah.

Lama kelamaan, harus saya akui, Bones lebih menarik ketimbang CSI. Mungkin karena latar belakang para penelitinya, kedekatan mereka satu sama lain, rahasia personal yang pelan-pelan terkuak, dan peralihan sudut pandang yang menyegarkan. Salah satu episode yang mengaduk emosi saya adalah The Boy in a Bush. Betapa tergetar batin tim Bones menghadapi mayat kecil yang mengenaskan, seperti dialog di bawah ini (sumber: wikipedia):

Zack: These are the smallest remains I’ve ever worked on.

Brennan: That’s a valid observation, Zack, but it’s not helpful to the investigation.

Zack: Sorry, Dr. Brennan.

Brennan: I was at Waco. Branch Davidian compound. I helped identify children who had been killed in the fire, seventeen of them.

Zack: So you’re saying I’ll get used to it?

Brennan: No, I’m saying you will never get used to it. We’re primates, social creatures. It’s coded into our DNA to protect our young, even from each other.

Zack: So I’m always going to feel terrible?

Brennan: What helps me is to pull back emotionally. Just… put your heart in a box.

Zack: I’m not good with metaphor, Dr. Brennan.

Brennan: Focus on the details.

Zack: Details, yeah. I can do that.

Saya termenung, seperti diingatkan lagi bahwa mengangkat anak pun keputusan besar. Selalu ada kemungkinan anak dalam bahaya, betapa pun kita berusaha menjaganya. Betapa sakitnya hati sang ibu angkat ketika anak itu tewas secara tragis di usia sangat belia. Saya pun baru tahu dari ucapan salah satu bocah lain, Sean, bahwa anak kandung diistilahkan regular children.

Sementara itu, pelaku kejahatan tidak kelewat mengejutkan. Namun dengan plot yang membangun emosi sangat baik, penutup kisah ini jadi menggetarkan. Saya sulit melupakannya.
Urusan profesional yang bersinggungan dengan karakter pribadi dan hubungan pribadi juga diangkat dalam episode The Girl in the Fridge. Seluk-beluk kesaksian persidangan mengingatkan saya akan sejumlah novel bertema serupa, yang memang makin hidup ketika divisualkan. Seperti kata konsultan juri, persidangan bergantung pada persepsi. Saksi harus mampu meyakinkan dan memikat juri, bukan membuat mereka jemu dan mengantuk. Keengganan menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana bisa berakibat fatal: membebaskan pelaku kriminal.
Karena masih di Season I, karakter para tokoh dikupas perlahan-lahan dengan menawan. Episode terakhir yang saya tonton, The Superhero in the Alley. Seperti Now is Good, mendadak kisah para remaja yang dicitrakan galau (dan itu masih berlaku) dan diterpa penyakit berat tidak lagi membosankan. Pasalnya yang dipakai adalah perspektif orang dewasa dan keluarga. Menariknya, di sini hadir penilaian psikologis dan antropologis berdasarkan hobi sang korban yang masih remaja itu terhadap komik. Perlu juga ditonton orangtua yang punya anak remaja dan doyan sekali ngomik/baca komik. Ini salah satu diskusi yang seru dan bikin saya nyengir:

Goodman: All writers reveal more of themselves than they intend on their page.

Booth: You know, I’ve gotta tell you, I never bought all that English 101 stuff. Sometimes a river is just a river.

Brennan: [to Goodman] With all due respect, my writing, for example, is pure fiction.

Goodman: Dr. Brennan, I fear you reveal much more of your worldview in your writing than you realize.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)