Sekitar tiga tahun silam, saya melamar ke sebuah penerbit terkemuka. Dikirimi tes tiga macam naskah, masing-masing sekitar dua halaman.

Sering kali, di sebuah forum saya mendapati pelamar yang menempuh tes (menurut pengakuannya sendiri) menukil beberapa kalimat naskah materinya itu karena kebingungan dan mencoba berkonsultasi. Bahkan, ada yang satu alinea penuh! Meski hanya iseng-iseng, dengan niat awal untuk mencari tahu makna istilah tertentu juga lalu urun rembuk, ternyata dengan copas satu kalimat ke Google saja langsung terkuak judul dan penulis bukunya. Kemudian dengan sok tahunya, saya menebak (dalam hati) penerbit yang dimaksud.

Saya tak ingin melakukan hal serupa, tapi berhubung materi tes waktu itu tidak dibubuhi nama pengarang dan judul buku, penasaran juga. Gali punya gali, ubek punya ubek, tidak diketemukan yang mana pun. Alangkah cerdiknya editor in house ini. Belakangan, dalam obrolan ringan, sang editor menjelaskan bahwa ia sengaja mengatur sedemikian rupa, memilih buku lama (dengan meng-googling dulu guna memastikan tidak mudah diketahui) dan… mengambil bagian tengah buku. Pantas!:D

Terkait ‘curhat’ soal tes di forum tadi, saya masih geli sampai hari ini. Lha wong di forum itu ada editor penerbit yang memberikan tesnya, kok. Kok bisa nggak ngeh, ya? *garuk-garuk*

Saya tidak perlu cerita pendapat para editor in house mengenai tes yang dibocorkan seperti demikian, tapi yang jelas: meski mereka tidak berkomentar, mereka biasanya tahu.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)