Satu lagi film tentang remaja yang tidak bahagia. Belakangan, saya sulit mencari yang sebaliknya.

Saya masih dibayang-bayangi Freddie Highmore cilik yang tampil di August Rush. Namun ternyata problematikanya tidak sekompleks The Perks of Being Wallflower atau Someday This Pain Will Be Useful To You.

George Zinavoy “hanya” kurang termotivasi. Dia larut dalam dunia sendiri, tidak mengerjakan tugas dan PR di sekolah, padahal cerdas. Dia penyendiri dan diam-diam tertarik pada kawan barunya, Sally (Emma Roberts). George mengelak dari tanggung jawab kendati tidak berbohong. Dia mengakui masalah motivasi itu, namun tidak berusaha memperbaikinya. Lumayan rumit dan “menantang” bagi orangtuanya.

Sebagian besar masalah George adalah ketidakpercayaan diri dan pergolakan hormon, di mata saya. Ini makin terendus ketika George memperkenalkan Sally dengan seniman kenalannya, Dustin (Michael Angarano). Dengan Sally-lah George terbuka dan berbagi, walaupun semula tidak mudah.

Perlahan-lahan terkuaklah sesuatu di rumah. Hubungan George dengan ayah tirinya memang tidak terlalu baik, walau pria itu menyayangi dia seperti anak sendiri. Saya sempat tertegun dan berpikir: apakah hanya satu itu jalan keluar ketika masalah ekonomi sangat kronis dalam keluarga?

Di satu titik, George yang berbakat lukis ini mampu membangkitkan motivasi sendiri. Film yang bagus ditonton orangtua remaja dan para remaja tentunya, kendati saya tidak suka akhir ceritanya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)