Pekerjaan menyangkut perkara harga diri, utamanya bagi seorang pria yang berkeluarga. Bobby Walker (Ben Affleck) terguncang ketika terkena dampak perampingan besar-besar di perusahaan tempatnya bekerja selama 12 tahun. Di lain pihak, ia enggan melepas segala fasilitas dan kenikmatan hidup kendati banyak hal harus berubah. Bobby sukar beranjak dari masa lalu dan itu tergambar dengan sangat manusiawi.

Dalam prosesnya mencari pekerjaan baru, Bobby selalu tampak tidak bahagia. Istrinya, Maggie (Rosemary Dewitt), sigap bertindak. Dia kembali bekerja sementara Bobby masih menerapkan standar tinggi. Dia tidak kunjung sadar akan kebahagiaan yang masih ada, semisal anak-anak yang memahami keadaan ini. Seperti pensiun, PHK berdampak cukup besar secara psikologis. Dengan cerdik, film ini meneropong berbagai sisi termasuk abang Maggie, Jack (Kevin Costner) yang menawarkan pertolongan pada Bobby. Makin signifikanlah garis tipis harga diri dan kesombongan.

Spoiler Inside SelectShow

Ternyata bukan hanya Bobby yang menjadi “korban” Sally Wilcox (Maria Bello), alias dipecat. Selama ini Bobby menyalahkan CEO-nya, atasannya Gene (Tommy Lee Jones), namun krisis semakin buruk. Terbukti bahwa semua orang bisa jatuh, tapi tidak semua sanggup bangkit kembali. Seperti kata Phil Woodward,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] You know the worst part? The world didn’t stop. The newspaper still came every morning, the automatic sprinklers went off at six. Jerry next door still washed his car every Sunday. [/sws_blockquote_endquote]

Film ini menyadarkan saya, betapa lekatnya kita mencengkeram kebiasaan. Mungkin pekerjaan itu melelahkan, mungkin ada sisi-sisi menjengkelkan di sana, tapi tetap menyakitkan ketika kita tidak memilikinya lagi. Beberapa karakter menempuh jalan keluar yang berlainan untuk menjawab tamparan hidup yang keras.

The Company Men tidak serta-merta membandingkan kehidupan kantoran dengan wirausaha secara muluk dan penuh iming-iming. Di satu bagian cerita, seseorang baru mengetahui perjuangan seorang pemilik usaha yang tidak mampu membayar lembur sehingga turun tangan sendiri dan berupaya agar pegawai-pegawainya tetap dapat bekerja. Pengetahuan yang berharga, diiringi seni memaafkan yang indah sehingga ketika orang itu berada di tempat baru, sikapnya bukan lagi dilandasi mental pekerja yang hanya peduli bayaran dan kesejahteraan pribadi.

Buat saya, film ini sangat mengesankan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ The Company Men (2010) ”

  1. gravatar Nadiah Alwi Reply
    November 2nd, 2013

    Film yang menarik. Ulasan yang juga mantaps. Bagian ini “ia enggan melepas segala fasilitas dan kenikmatan hidup kendati banyak hal harus berubah” bikin aku merenung :). TFS.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 8th, 2013

      Terima kasih sudah baca, Nad:)

Leave a Reply

  • (not be published)