Sumber: flixster

Lagi-lagi pria tidak beruntung. Kehilangan pekerjaan ketika anak pertama menjelang lahir padahal istri yang berpenghasilan lebih besar sudah memutuskan akan tinggal di rumah saja. Seperti Comme Un Chef, Tom waktu itu menjadi chef pula. Namun selanjutnya sangat berbeda.

Sebenarnya saya agak bosan, karena film bertema serupa yang lebih “berharga diri” adalah Meet Bill. Atau setidaknya This is 40. Tapi anehnya, saya masih berusaha menoleransi. Saya ingin melihat dari kacamata Tom, sang suami dan ayah baru yang lintang pukang berusaha menunjukkan tanggung jawabnya. Memang stres menonton ini, apalagi Tom terkesan selalu ditimpa kemalangan. Sudah mengalah untuk kerja sekantor dengan ayah mertua, atasan langsungnya ternyata pacar lama sang istri, dan masih banyak lagi. Jason Bateman yang biasanya jadi orang baik (dan apes melulu juga) sukses beralih peran dan membuat saya bete berat. Sebagai bos, Chip Sanders jauh lebih parah daripada Devil Wears Prada atau Horrible Bosses. Bahkan benar-benar sakit jiwa.

Tapi kadang, hidup memang seperti itu. Masalah seperti tak ada habisnya. Lambat-laun saya berempati pada Tom, segalanya jadi salah tak peduli dia berniat baik. Saya menggarisbawahi sesi konseling Tom dan Sophia ke konsultan perkawinan. Di situlah saya baru tertawa, karena sang psikolog sendiri berurat tegang pada satu kejadian. Beban menumpuk secara mental, sangat dimaklumi. Mendengarkan masalah banyak orang sangat tidak mudah. Kuncinya tetap keterbukaan dalam komunikasi, dengan kata lain: jangan takut bertengkar selagi bisa melegakan dan berakhir dengan baik.

Secara keseluruhan, tersimpullah bahwa komedi acap kali mengandung kekerasan yang melelahkan. Mungkin termasuk komedi hitam, karena saya tidak senyum malah sering gregetan dan merasa getir. Persoalan tidak hanya memberatkan Tom seorang, tapi juga Sophia. Dia masih harus transisi dari karier cemerlang dan sepenuhnya mengurus anak, tahu-tahu teman lamanya (Amy Adams) mengajak kegiatan sesama ibu yang punya bayi dan hasilnya tidak melegakan.

[sws_blue_box box_size=”100″] Pesan moral: Yang senasib belum tentu mengerti. Sering kali malah menambah stres dengan persaingan konyol. [/sws_blue_box]

Syukurlah film ini hanya satu jam. Tidak buruk, tidak parah, masih ada yang bisa saya petik tentang keluarga dan rumah tangga.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)