Penulis: John Green

Penerjemah: Ingrid Nimpoeno

Penyunting: Prisca Primasari

Desainer sampul: BLUEGarden

Penerbit: Qanita

Tebal: 424 halaman

Harga: Rp49.000,00

Sumber cover: deviantart desainer, Heavenly-illusionz

Sependek pengetahuan saya, masih sedikit kisah penderita kanker yang berusia muda dalam bentuk fiksi. Lansia, para ibu, para ayah, cukup sering. Anak-anak pun pernah saya temukan. Remaja yang dibidik John Green dalam novel ini, salah satu spektrum yang membuktikan tidaklah benar masa remaja murni penuh kegembiraan. Layaknya anak-anak dalam kadar tertentu, remaja pun perlu berkenalan dengan sisi pahit kehidupan. Satu segi yang paling tidak terduga: umur.

Usia 16 dan 17 seperti Hazel Grace dan Augustus Waters [duh, namanya itu menikam sekali] bisa dikatakan periode yang “rapuh” dalam arti sarat problematika. Tanpa menderita kanker saja, remaja tengah mengalami pergolakan yang konon disebabkan hormon dan kekagetan mereka akan perubahan fisik serta peralihan menjelang dewasa. Namun dengan cerdik, penulis menghadirkan kisah penderita kanker yang berusaha menjalani hidup dalam keceriaan semestinya. Saya lebih sering tertawa dan nyaris tidak sedih membaca novel ini, sekalipun trenyuh oleh ayah Hazel yang kerap menangis. Bagaimana tidak, Hazel anak satu-satunya.

Dari sudut pandang gadis yang terpaksa menyeret diri ke kelompok pendukung itulah, kanker seakan bukan potret bencana. Hazel tidak ingin diperlakukan istimewa, kadang malas bergaul karena teman-temannya menjadi canggung, merasa salah jika kelepasan menyebut “mati”. Kanker bisa dianggap berkah, karena dia berkenalan dengan pemuda tampan bernama Augustus. Dia juga tetap bersemangat walau kakinya sudah tinggal satu.

Senda gurau khas remaja yang terkadang blakblakan dan perilaku eksentrik beberapa karakter menjadi kekuatan novel ini. Augustus yang pura-pura merokok sebagai citra penguasaan diri karena tak membiarkan “zat pembunuh itu melakukannya”, misalnya. Di titik tertentu saya belajar bahwa remaja tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, sehingga tak senang dipeluk-peluk, walau masih bisa melankolis mengenang masa kanak-kanak sewaktu bermain.

Saya sependapat dengan Hazel, karya Peter Van Houten sang pengarang favorit punya kelebihan karena tidak melulu bicara tentang penderita kanker yang mendirikan yayasan kanker. Sekuat-kuatnya mereka, adakalanya merasa ingin menyerah karena kesakitan luar biasa. Tak urung, Hazel sesekali marah dan menyuruh ibunya lebih banyak keluar rumah agar merasa tak jadi beban.

Terlepas dari alurnya yang kadang pelan, The Fault In Our Stars menawarkan sesuatu yang baru. Masih layak pula disebut kisah cinta. Yang tidak biasa.

Skor: 3,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)