Penerjemah: Reni Indardini

Penyelaras aksara: Firmansyah

Penerbit: Voila Books (Hikmah), 2007

Tebal: 520 halaman

Semula saya tidak ingin menulis ulasan ini karena khawatir nyerempet bocoran alias spoiler. Namun semakin ditunda, semakin kepikiran. Mas Caroge-lah yang lebih dulu membaca novel ini, nun di suatu masa ketika kami masih sempat mau membaca langsung buku yang baru dibeli. Dia bilang ini termasuk buku rekomendasi.

Begitu buka halaman-halaman awal, saya langsung tahu kenapa. Pernah saya bertanya iseng, “Ada nggak ya, buku yang isinya dominan dialog kayak skrip film gitu? Tapi bukan model cerpen sastra.” Itu dikarenakan saya sering menyerah menulis novelet atau novel, akibat kelemahan saya membuat deskripsi, narasi, dan segala macamnya. Format itu digunakan Stephen Spignesi dalam The Gas Room yang berjudul asli Dialogues, walaupun tidak seratus persen.

Alhasil, terbantulah napas ngos-ngosan saya yang belakangan jarang membaca fiksi setebal ini. Profesi karakter sentral sudah jadi pembetot perhatian: teknisi euthanasia hewan. Profesi unik yang jarang terpikir oleh saya, sekalipun pernah tahu/baca ihwal hewan yang “ditidurkan” karena berbagai alasan. Pikir saya, itu “tinggal” dilakukan saja oleh dokter hewan seperti James Herriot. Terbayang tersiksanya perasaan Tory Troy, sang teknisi, sebab harus “mematikan” kucing dan anjing di kamar gas. Tory yang cinta hewan, namun anehnya melakoni profesi yang demikian. Sudah berkali-kali atasannya melarang terlalu akrab dengan hewan yang ditampung, tetapi Tory keras kepala.

Sampai akhirnya dia didakwa membunuh enam rekan kerjanya, dimasukkan ke kamar gas. Jadilah tugas psikiater yang ditunjuk pengadilan untuk meneliti kewarasan Tory, ditambah berbagai tes. Layaknya di film-film thriller bernuansa psikologis, latar belakang Tory dikorek. Sebagaimana umumnya psikopat, dia sangat cerdas. Sebagian latar belakang personalnya terasa “biasa” karena sering dikemukakan di kisah sejenis. Yang membedakan, digulirkan dalam dialog-dialog wawancara. Bukan hanya dengan psikiater, juga dengan pembela dan beberapa pihak lain.

Kepiawaian pengarang amat kentara. Memang ini novel debut Stephen Spignesi, namun dia pernah menulis sejumlah buku nonfiksi. Saya bahkan bisa menjiwai sakit kepala Tory, yang sebenarnya merupakan petunjuk bagi pembaca teliti.

Ada tiga bagian favorit saya:

  • Cerpen dan novelet Tory yang diarsipkan sang psikiater. Jadinya seperti cerita berbingkai karena sangat hidup. Saya tidak bisa berhenti membaca novelet yang gelap dan kelam itu, menuturkan kepedihan seorang wanita yang kehilangan bayi akibat SID padahal belum lama berselang, suaminya meninggal. Potensi Tory dihadirkan dengan amat kuat lewat karya-karyanya tersebut.
  • Persahabatan Tory dengan perawatnya, Chiarra. Kadang mereka membahas buku dan film, seperti obrolan Tory dengan psikiater dan pembela. Kaitan emosional Tory dan Chiarra menjadikan obrolan para juri persidangan kurang menarik. Di sini disebut-sebut James Joyce, Bruce Willis, dan Stephen King yang erat sekali dengan preferensi personal pengarang.
  • Penutup seluruh kisah. Kejutan yang hebat.

Sewaktu mendiskusikan dengan Mas Caroge yang samar-samar ingat bacaannya, dia bilang, “Kejenuhan akibat sesuatu yang tidak bisa dilepaskan/dielakkan bisa membuat seseorang sulit membedakan dunia nyata dan dunia imajiner.” Begitulah.

The Gas Room termasuk “buku lama kurang populer” yang mengandung harta karun, buat saya.

Penerjemah: Reni Indardini Penyelaras aksara: Firmansyah Penerbit: Voila Books (Hikmah), 2007 Tebal: 520 halaman Sumber cover Semula saya tidak ingin menulis ulasan ini karena khawatir nyerempet bocoran alias spoiler. Namun semakin ditunda, semakin kepikiran. Mas Caroge-lah yang lebih dulu membaca novel ini, nun di suatu masa ketika kami masih sempat mau membaca langsung buku yang baru dibeli. Dia bilang ini termasuk buku rekomendasi. Begitu buka halaman-halaman awal, saya langsung tahu kenapa. Pernah saya bertanya iseng, "Ada nggak ya, buku yang isinya dominan dialog kayak skrip film gitu? Tapi bukan model cerpen sastra." Itu dikarenakan saya sering menyerah menulis novelet atau novel, akibat kelemahan saya membuat deskripsi, narasi, dan segala macamnya. Format itu digunakan Stephen Spignesi dalam The Gas Room yang berjudul asli Dialogues, walaupun tidak seratus persen. Alhasil, terbantulah napas ngos-ngosan saya yang belakangan jarang membaca fiksi setebal ini. Profesi karakter sentral sudah jadi pembetot perhatian: teknisi euthanasia hewan. Profesi unik yang jarang terpikir oleh saya, sekalipun pernah tahu/baca ihwal hewan yang "ditidurkan" karena berbagai alasan. Pikir saya, itu "tinggal" dilakukan saja oleh dokter hewan seperti James Herriot. Terbayang tersiksanya perasaan Tory Troy, sang teknisi, sebab harus "mematikan" kucing dan anjing di kamar gas. Tory yang cinta hewan, namun anehnya melakoni profesi yang demikian. Sudah berkali-kali atasannya melarang terlalu akrab dengan hewan yang ditampung, tetapi Tory keras kepala. Sampai akhirnya dia didakwa membunuh enam rekan kerjanya, dimasukkan ke kamar gas. Jadilah tugas psikiater yang ditunjuk pengadilan untuk meneliti kewarasan Tory, ditambah berbagai tes. Layaknya di film-film thriller bernuansa psikologis, latar belakang Tory dikorek. Sebagaimana umumnya psikopat, dia sangat cerdas. Sebagian latar belakang personalnya terasa "biasa" karena sering dikemukakan di kisah sejenis. Yang membedakan, digulirkan dalam dialog-dialog wawancara. Bukan hanya dengan psikiater, juga dengan pembela dan beberapa pihak lain. Kepiawaian pengarang amat kentara. Memang ini novel debut Stephen Spignesi, namun dia pernah menulis sejumlah buku nonfiksi. Saya bahkan bisa menjiwai sakit kepala Tory, yang sebenarnya merupakan petunjuk bagi pembaca teliti. Ada tiga bagian favorit saya: Cerpen dan novelet Tory yang diarsipkan sang psikiater. Jadinya seperti cerita berbingkai karena sangat hidup. Saya tidak bisa berhenti membaca novelet yang gelap dan kelam itu, menuturkan kepedihan seorang wanita yang kehilangan bayi akibat SID padahal belum lama berselang, suaminya meninggal. Potensi Tory dihadirkan dengan amat kuat lewat karya-karyanya tersebut. Persahabatan Tory dengan perawatnya, Chiarra. Kadang mereka membahas buku dan film, seperti obrolan Tory dengan psikiater dan pembela. Kaitan emosional Tory dan Chiarra menjadikan obrolan para juri persidangan kurang menarik. Di sini disebut-sebut James Joyce, Bruce Willis, dan Stephen King yang erat sekali dengan preferensi personal pengarang. Penutup seluruh kisah. Kejutan yang hebat. Sewaktu mendiskusikan dengan Mas Caroge yang samar-samar ingat bacaannya, dia bilang, "Kejenuhan akibat sesuatu yang tidak bisa dilepaskan/dielakkan bisa membuat seseorang sulit membedakan dunia nyata dan dunia imajiner." Begitulah. The Gas Room termasuk "buku lama kurang populer" yang mengandung harta karun, buat saya.

Kesan Rinurbad

0

Thriller Kreatif

Seperti kata Kirkus Reviews, "Debut yang cerdas."

User Rating: 4.83 ( 1 votes)
0

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)