Judul terjemahan: Penulis Hantu
Penulis: John Harwood
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 416 halaman
Cetakan: I, Maret 2007

Saya tertarik membaca dan memiliki novel ini sejak menyimak ulasan
Anwar Holid di milis. Judulnya sudah mengandung dua makna apabila
tidak diperhatikan dengan teliti. Bila dipadukan, ghostwriter adalah
sebuah profesi yang — dahulu — sempat saya duga berarti penulis
kisah hantu.

Novel peraih International Horror Guild Award ini mengisahkan
penelusuran Gerard Freeman terhadap masa lalunya. Ia sempat melanggar
peraturan sang ibu, Phyllis, dengan memasuki kamarnya dan menemukan
sebuah naskah di sana. Hingga akhir hayatnya, Phyllis tutup mulut
mengenai penulis naskah novel tersebut dan kampung halamannya di
Inggris.

Gerard menggunakan kesempatan untuk terbang dari Australia dan menebus
rasa ingin tahunya, sekaligus bertemu dengan gadis yang sekian lama
menjadi sahabat penanya. Meski belum pernah melihat wajah gadis
bernama Alice Jessel itu, Gerard menjadikannya sebagai kekasih. Alice
mengaku duduk di kursi roda dan mencegah Gerad menjumpainya sebelum ia
benar-benar dapat berjalan kembali. Hubungan ini sempat tercium sang
ibu, yang kemudian membiarkannya asalkan Gerard tidak lagi
mempertanyakan asal-usulnya.

Kediaman Alice tidak dapat ditemukan, bahkan data mengenai dirinya pun
tidak ada. Kengerian telah menyeruak sejak Gerard teringat nama Jessel
dalam sebuah cerita, ditambah lembar-lembar kisah yang didapatinya
sebagai buah pena Viola Hatherley — nenek buyutnya. Kemudian John
Harwood mengombang-ambing pembaca dengan paparan cerita horor karangan
Viola, semua bernuansa kepedihan cinta. Pria bangsawan yang bunuh diri
dan seorang istri yang diputuskan kekasih gelapnya adalah dua di
antaranya.

Kendati menggunakan teknik cerita berbingkai, The Ghost Writer tidak
menjadikan saya bingung. Perbedaan font memperjelas mana yang kisah
Gerard, mana surat-surat, dan mana karangan Viola. Cerdiknya, ide
horor berkembang subur dari satu poin: gambar. Pria bangsawan terjun
ke sungai setelah terpesona sebuah lukisan, wanita peminat buku
dikejar-kejar boneka-anak yang diduga terkait potret perempuan lain —
mendiang kekasih lelaki yang dicintainya. Sekilas terlihat bagai
benang lepas (namun saya menikmatinya) hingga kemudian tiba pada
sebuah cerita yang teramat mirip dengan para leluhur Gerard, termasuk
perihal ibunya.

Bisakah Gerard bertemu dengan Alice? Mengapa Phyllis menutupi masa
lalunya? Mengapa ia melarang putranya membaca novel Viola? Bagaimana
kelengkapan kisah itu? John Harwood mengemukakan jawaban yang
mengejutkan sekaligus menakutkan. Ditanggung membuat bulu roma
berdiri. Satu hal yang masih mengusik pikiran saya: apakah ‘Pria yang
Tenggelam’ adalah Henry St. Clair?

Skor: 4


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)