Sumber poster

Seperti halnya membaca buku yang diadaptasi menjadi beberapa bentuk, apa serunya menonton film yang ceritanya masih sama dan hanya berbeda produksi?

Tak ada yang benar-benar persis. Bagi saya, mengetahui versi lain karya Stieg Larsson yang dilayarperakkan ini mengundang minat. Terlebih, kekangenan pada karakter Lisbeth Salander.

It’s funny how the fear of offending is greater than the fear of pain.

Kali ini saya menonton bersama Mas Agus, yang belum membaca bukunya maupun menonton versi Swedianya. Komposisi warna hitam yang hadir seiring soundtrack-nya di pembukaan sudah sangat memikat, saya masih mengingat-ingat apa lagunya. Pikir saya, kalau memang ceritanya persis sama, toh saya bisa menikmati tampilan visualnya seperti laptop Salander yang keren. Ketelitian dan ketekunan Salander-Blomkvist meriset juga menggugah semangat kerja saya.

Saya masih ngilu akan kekerasan yang dialami Salander, mengagumi ingatan fotografisnya, tersenyum mendengar penjelasannya, “Metabolismeku cepat, berat badanku tak bisa naik.”, dan kalau boleh membandingkan, versi Hollywood ini terasa lebih ‘setia’ pada bukunya. Tapi tak masalah dan tak menjadikan versi Swedianya buruk, sebab buat saya, “Buku ya buku, film ya film.”

Spoiler Inside SelectShow

Singkatnya, saya rela menahan pusing dan mata kanan yang sakit untuk menonton film yang lebih dari 2 jam ini sampai selesai.

Skor: 4,5/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)