Bagaimana seandainya kau satu-satunya orang yang mampu berdusta sedangkan kau tinggal di tempat yang penghuninya jujur apa pun yang terjadi? Dan apa yang akan kaulakukan apabila semua orang percaya begitu saja semua perkataanmu, sekalipun itu bohong?

Pengandaian yang mungkin hanya ada dalam khayalan manusia dan jarang tebersit itu diwujudkan dalam cerita film The Invention of Lying. Semua berkata yang sebenarnya. Tak ada yang keberatan dengan itu, sampai suatu ketika Mark Bellison (Ricky Gervais) tergerak untuk berbohong dan merasakan ‘manfaatnya’.

Mark cukup prihatin dengan kondisinya sendiri, walau tak sampai ingin berbuat jahat pada orang lain. Ia dianggap menyedihkan, malang, ditendang dari pekerjaan, dibenci seseorang yang merasa keren dengan alasan tak jelas (katanya hanya karena, “Ada sisi dalam dirimu yang tak kumengerti dan aku tak suka apa pun yang tak kumengerti”), dipandang tidak terlalu menjanjikan oleh teman kencannya, Anna (Jennifer Garner). Setelah menyadari ‘kemampuan’ mereka-reka itu, apakah Mark bohong akan kepedulian dan kasih sayang pada ibunya? Tidak. Sang ibu pun tetap menjadi tumpuan curahan hatinya, teman terbaiknya, hingga seorang dokter dengan sangat jujur memvonis wanita lansia itu akan meninggal dalam waktu dekat akibat serangan jantung.

Kemudian Mark menghiburnya. Tindakan spontan belaka agar sang ibu berpulang dengan tenang. Kekhasan manusia yang takut akan kematian. Namun itu membuatnya terkenal mendadak dan didatangi ribuan orang yang sangat ingin tahu apa yang diketahui Mark seputar kehidupan setelah mati. Di sinilah klimaks penting film satir tersebut.

Setelah mendengar ini-itu yang menyenangkan dan menimbulkan sukacita, orang-orang tetap bertanya bahkan memprotes. Seolah Mark mahatahu. Tepatnya, Mark harus bisa menjawab semua itu. Perilaku yang entah mengapa, cukup kerap dan tidak asing ditemukan di dunia komunikasi kita. Utamanya di dunia maya. Diberi hati, minta jantung. Sekalian dengan usus, panggul, tengkorak.

Tema The Invention of Lying ini sangat unik menurut saya. Bayangkan jika kita dihadapkan hanya pada dua pilihan: jujur senantiasa tapi tidak bahagia atau bahagia tapi dibohongi terus-terusan. Manakah bohong yang baik? Kapankah harus berhenti berdusta? Kapan dan bagaimana cara berterus terang tanpa merusak kegembiraan orang lain dan hati sendiri? Demikianlah esensinya.

Terlepas dari unsur romansa yang tidak kelewat mengejutkan akhirnya, kalau saya boleh menyimpulkan, film-film Ricky Gervais bermutu (seperti The Ghost Town) dan ‘bersih’.

Skor: 4,75/5

Gambar dari flixster.com


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)