flixster.com

India dan Jepang sama-sama negara berbudaya kompleks dan eksotis. Alangkah memesona membayangkan kedua kultur ini berpadu dalam satu kisah cinta. Latar waktunya nun di masa silam, mempertegas apa yang kini menjadi “tren” dan dikenal dengan sebutan Long Distance Relationship. Mengharukan bagi saya, menyaksikan pasangan suami-istri yang tak pernah bertemu muka – hanya lewat foto – Miyage dan Snehmoy – berusaha berkomunikasi lewat surat sambil membuka kamus bahasa Inggris masing-masing.

Sengaja, saya tidak melanjutkan membaca bukunya dulu (yang berupa kumpulan cerpen dan telah diterbitkan Bentang Pustaka). Sebatas cerpen pertama, kemudian berjarak sehingga saya tidak terdorong membandingkan deskripsi fisik atau lain-lain berdasarkan cerpen dengan tayangan film besutan Aparna Sen yang cantik ini.

Tak pernah ada hubungan jarak jauh, apalagi perkawinan, yang mudah. Komunikasi dapat disiasati, bahkan sang suami rela menelepon dari India untuk mendengar suara istrinya. Mereka bertukar buah tangan, layang-layang indah nan cantik sehingga kamar Snehmoy kian hangat oleh “kehadiran” wanita Jepang yang dicintainya. Tentu, ini jenis perkawinan yang terlalu ganjil. Apalagi kemudian di rumah keluarga sang guru (atau kepala sekolah? Saya kurang jelas) ada janda beranak satu yang cukup dekat dan mengurus rumah beserta ibu Snehmoy yang lanjut usia.

Meski tanpa teks, saya merasa mampu menikmati film tersebut. Visualnya yang menawan, hidup, bahasa tubuh yang jelas dan sesekali bahasa Inggris aksen Jepang serta India justru membuat The Japanese Wife kian elok. Konflik mencuat perlahan namun nyata, sebab salah satu kegelisahan dalam perkawinan jarak jauh adalah harapan memiliki anak. Dalam hal ini, impian Snehmoy menjadi ayah.

Akankah mereka bersatu? Temukan jawabannya yang tak terduga, kendati sudah membaca bukunya sekalipun.

Jempol untuk Kunal Basu, jempol juga untuk Aparna Sen serta semua pendukung film rupawan tanpa tari-tari dan nyanyian ini.

Sumber poster

Skor: 4,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)