bentangpustaka.mizan.com

Penulis: Sophia Bennett

Penerjemah: Nadiah Alwi

Penyunting: Dila Maretihaq Sari

Pemeriksa aksara: Fitriani & Intari Dyah P.

Penerbit: Bentang Belia, 2012

Tebal: vi + 434 halaman

 

Saya pernah beberapa kali membaca buku yang amat berkaitan dengan mode dan ingar-bingarnya, baik terbitan luar negeri maupun dalam negeri. Tetap saja saya takjub oleh konsistensi Sophia Bennett menulis fiksi yang berbau fesyen. Dalam profilnya, ia hanya menuturkan pernah mencoba melamar kerja di Chanel dan mengikuti ajang cari bakat. Sophia menegaskan preferensi bermode-ria itu dalam wawancaranya di blog A Reading Daydreamer,

I actually never expected to write about fashion. I’ve always been interested in art and literature – creative things – and fashion was an extension of that. My family helped. My uncle was a sailor and collected costume dolls from around the world for me. My mother and both my grandmothers knitted, smocked and sewed things for me, too. I think it started there.

Kendati menggiurkan bagi banyak remaja seusianya, Ted alias Edwina Trout, yang merasa tidak semenarik Ava sang kakak, terkaget-kaget tatkala dihampiri perwakilan agen model. Dirinya yang dipilih, bukan Ava. Ted dilanda dilema antara tidak begitu yakin meminati bidang tersebut dan desakan Ava yang kemudian divonis menderita kanker limfoma.

Novel ini banyak bicara tentang keluarga Trout secara khusus, di samping seluk-beluk model. Dad yang tengah menganggur sehingga seluruh beban mencari nafkah disandang oleh ibu mereka, seorang penerjemah bahasa Prancis. Kesedihan yang melanda tidak menjadikan Mum menyudutkan Dad dengan kondisinya, pria itu tetap bisa menulis dan beraktivitas di rumah. Menggelikan juga ketika Dad berusaha mencuci pakaian anak-anak gadisnya dan hasilnya cukup merepotkan Ted.

Bosan dengan kisah kakak-adik yang bersaing? The Look tidak mengangkat itu. Ava dan Ted kompak, saling melindungi, meski ada aturan umum khas saudara perempuan seperti enggan meminjamkan barang-barang pribadi. Juga sedikit rasa kesal karena harus sekamar begitu pindah ke tempat yang lebih kecil dan sesuai dengan perekonomian keluarga. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah sewaktu rambut Ava mulai rontok dalam jumlah banyak.

Logisnya, ketika Ted merambah dunia model, ia tidak serta-merta mendapat kemudahan. Ia masih anak sekolah yang dituntut berprestasi, disorot guru, dan sesekali mengalami gesekan dengan teman. Ted mempertanyakan impian sendiri, yang berangkat dari hobi, ditambah harapan membantu orangtua karena besarnya biaya pengobatan Ava. Dilema remaja normal di usia enam belas tahun.

Yang membuat buku ini asyik, banyak lagu dan sosok populer di masa jadul. Barangkali karena Sophia Bennett kelahiran tahun 1966 dan seperti katanya di sini, Which makes me, oooh, about that big. *holds fingers quite far apart*

Secara umum, The Look adalah buku remaja yang riang sebagaimana terpancar di sampul dan pembatas bukunya yang cantik:)

Skor: 3/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ The Look ”

  1. gravatar Nadiah Alwi Reply
    July 3rd, 2012

    🙂 Yang aku suka, buku ini membuatku mengharu biru saat menerjemahkannya.

Leave a Reply

  • (not be published)