Ketika istrinya meninggal akibat kanker, Monty Wildhorn (Morgan Freeman) marah pada dunia dan melampiaskannya dengan minum-minum. Dia kehilangan semangat untuk menulis.

Sudah lazim sepertinya, tempat-tempat tenang berpemandangan indah dianggap cocok untuk mengundang inspirasi. Monty ditempatkan di Belle Isle selama musim panas oleh keponakannya. Tetangga terdekat Monty adalah keluarga O’Neil: Charlotte (Virginia Madsen) dan ketiga putrinya. Mereka kembali ke rumah warisan nenek Charlotte setelah dia berpisah dengan sang suami.

Bukan berarti mudah bagi Charlotte. Anak sulungnya, Willow, berkeras ingin tinggal di kota bersama ayahnya. Dialog Charlotte dan Finnegan, si tengah yang pemberontak (seperti siapa ya?:p), menjelaskan arti perceraian pada si bungsu Flora cukup menarik. Di hari pertama bertemu wanita tetangganya itu, Monty sudah menyemburkan teguran karena Charlotte mengajak anjingnya jalan-jalan.

Toh, Belle Isle menghadirkan kehangatan tersendiri bagi penulis spesialis novel era koboi itu. Monty datang ke undangan tetangga, berkenalan dengan Finnegan yang menganggap diri bukan anak kecil dan sudah diperkenankan ibunya memiliki pisau lipat sendiri, kemudian hal-hal kecil melankolis yang mengeratkan hubungan mereka. Inspirasi datang sejak Monty membuka jendela tiap malam mendengarkan permainan piano Charlotte.

Komunikasi Monty dengan penjaga toko setempat serta Carl, pemuda berkebutuhan khusus,  yang menurutnya “mahir menari” kadang mengundang senyum dan mengharukan. Apalagi ketika kemudian Monty mengungkap penyebab dirinya harus duduk di kursi roda.

Meski nyentrik, karakter yang diperankan Morgan Freeman masih cocok untuk kakek-kakek. Saya jadi ingat perkataan sendiri belum lama ini: mungkin yang bisa menenangkan sekaligus “meluluhkan” kekeraskepalaan lansia adalah anak kecil.

Film yang perlu ditonton para penulis, sambil belajar menangkap aksen khas Belle Isle.

Skor: 3/5

Sumber poster

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)