Awalnya, film Irlandia-Kanada yang diangkat dari novel berjudul sama ini mengambil benang merah khas problematika remaja. Ada murid baru yang kemudian menjadi teman baru Lucy, seorang siswi sekolah asrama, sehingga sahabatnya, Rebecca, merasa cemburu.

Yang terasa stereotipe adalah sosok Ernessa, murid baru tersebut. Selain profil wajahnya yang unik, dia digambarkan penyendiri dan tampak misterius dengan gaun hitam ketika baru pertama kali datang. Saya sempat gemas dan membayangkan ada film lain yang semua tokohnya introvert sehingga yang dipandang aneh adalah yang heboh, berisik, dan memakai baju aneka warna:D

Rebecca terombang-ambing antara kesepian, kesal oleh kedekatan Ernessa dan Lucy, juga dukacitanya karena sang ayah belum lama ini meninggal secara mengenaskan. Mimpi, buku harian, dan teman lain serta kenangan akan karya-karya ayah Rebecca memperkuat tekanan batinnya. Tindak-tanduk Ernessa mencurigakan dan tidak biasa, disusul kematian beberapa orang di asrama.

Kendati ceritanya tidak “baru”, suasana gelap khas film Irlandia (dan horor Inggris) terbangun sempurna bagi saya. Unsur teka-teki apakah ini thriller atau bukan menjadikannya asyik ditonton. Tapi kalau Anda tidak tahan darah, sebaiknya siapkan mental dulu.

Bisa dikatakan, ini satu dari sedikit film remaja yang saya sangat sukai.

Sumber poster

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)