Judul postingan ini diambil dari status YM Dhyan, sekian tahun ke belakang. Saya teringat kembali tatkala berbincang dengan seorang kolega editor, “Apakah mungkin diestimasi ketika menyunting terjemahan? Misalnya di awal penerjemah masih kagok karena belum lebur atau menghayati, nanti lambat laun akan membaik dan terus begitu sampai selesai.”

Saya terpingkal-pingkal dan menjelaskan, “Menurutku tidak bisa dibegitukan. Kadang harus kuakui, waktu menerjemahkan sekian puluh halaman terakhir… atau bab terakhir itu justru ‘siksaan’ paling berat. Jadi malah mungkin acak-acakan karena ingin lekas beres.” Bukan satu-dua kali saya chat dengan sesama penerjemah, bila berhadapan dengan bab pamungkas, rasanya tak habis-habis:)).

Memang demikianlah adanya, garis finis bila sudah terlihat, membuat saya ingin bergegas sampai. Tapi kok, seperti fatamorgana saja, atau garis cakrawala di kejauhan. Tidak sampai-sampai juga. Adakalanya, saat bab pengujung itu saya malah bertemu idiom yang lumayan sulit. Atau tahu-tahu penulisnya ‘iseng’ menghadirkan tokoh baru.

Keinginan untuk cepat tuntas itu memang dahsyat. Yang biasanya letoy sekitar 10 halaman sehari maksimal, satu bab bisa dilibas. Tiga puluh halaman mendadak jadi sedikit, sebab pada tahap akhir ini saya tahan tidak browsing kanan-kiri (dalam arti sekadar bersenang-senang, bukan googling meriset), mengabaikan YM, dan jika tidak dirampungkan hari itu juga, bisa gemas sampai tak nyenyak tidur.  Benar, hasilnya keriting dan perlu ditelaah kembali sebelum disetor. Tapi yang penting mengembuskan napas dulu begitu bertemu kata ‘Tamat’.

Ini ternyata berlaku dalam penyuntingan, baik lokal maupun terjemahan. Seperti cerita seorang kawan, ketika sudah siap “Touchdown kasur!” alias istirahat, ternyata ada bab susulan untuk diperiksa. Aduhai…

Yang saya rasakan, terburu-buru malah lebih capek. Terkadang justru harus kerja dua kali. Bagaimana dengan Anda?:)

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)