Seperti kata Enid Blyton melalui karakter peri pewujud tiga keinginan dalam salah satu bukunya, manusia kerap kali tidak dapat meminta secara bijaksana. Sudah banyak terbukti bahwa kita mengedepankan keinginan, bukan kebutuhan. Kita kerap bingung dan keliru membedakan keduanya. Ketika mengetahui sisi terang rencana Tuhan pun, kita masih sulit ikhlas menjalaninya.

Cindy (Jennifer Garner) dan suaminya, Jim (Joel Edgerton), tidak menyangka harapan mereka memiliki anak terkabul dengan cara yang unik. Baru sehari sebelumnya Cindy menangisi vonis dokter,

“There’s some point that we must accept.”

Muncullah Timothy  (CJ Adams), yang secara spontan memanggil mereka Mom dan Dad. Ajaibnya, di kaki bocah tampan ini ada daun yang terus muncul sekalipun digunting. Dia menjalani keanehan tersebut dengan senyum dan selalu optimistis, meski terkadang orangtuanya justru rikuh, malu, atau terlalu bersemangat.

Timothy sosok yang kreatif sebagaimana harapan orangtuanya. Namun seperti kebanyakan proses belajar menjadi ayah dan ibu, Cindy dan Jim terpapar sakit hati yang menahun dari masa lalu. Cindy jengah terus dijejali cerita adiknya, Brenda, tentang kehebatan ketiga anaknya. Dalam ceritanya, Brenda toh menyisipkan keluhan sekaligus sindiran mengesalkan kala Cindy mengatakan menekuni hobi gambar lagi. “You’re so lucky, you have so many spare times to waste.” Kira-kira begitu.

Belum lagi Jim, yang selalu tegang jika bertemu ayahnya. Jim berusaha tidak seperti Big Jim terhadap Timothy, tapi apa daya… kadang orang yang kita benci justru melekat erat di pikiran dan hati serta memengaruhi langkah-langkah kita.

Menjadi orangtua tidak berarti sempurna meski ingin, justru dari aneka kesalahanlah manusia terus belajar. Butuh kerja sama, ketabahan, ketangguhan, serta keberanian untuk mencintai anak apa adanya.

Salah satu yang mengesankan sekali buat saya di film ini adalah Dianne Wiest. Belakangan, tak pelak pengaruh usia, saya senang mengamati karakter lansia eksentrik dan pemarah sekalipun. Saya juga baru tahu dari film drama berelemen fantasi ini, meski sama-sama cabang seni, kemampuan menggambar bisa dipandang rendah oleh yang menekuni musik. Kala memberi pengertian tentang bullying, Cindy berkata, “Kids can be so cruel,” namun sebenarnya orang dewasalah yang gemar berkompetisi. Dengan saudara sendiri sekalipun.

The Odd Life of Timothy Green mengajak saya merenung, bersyukur, dan melihat segi-segi positif bahwa segala sesuatu ada alasannya. Semoga.

“It’s okay to be different. A little weird, even.”

Skor: 5/5

Sumber poster: flixster


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)