Dua puluh satu tahun yang lalu rupanya. Saya tidak bisa membayangkan berapa lama film ini memakan waktu ketika diputar di TV, barangkali sebagian sudah disensor.

Ketika ditugasi mewawancarai Dr. Hannibal Lecter, Clarice Starling sudah diperingatkan untuk tidak memberikan detail personal apa pun kepada pesakitan satu itu. Apa daya, Clarice yang masih baru dalam keagenan FBI kendati merupakan siswa terbaik dalam pendidikan, terpukul oleh situasi mencekam dan permainan psikologis lihai Dr. Lecter. Memang tidak mudah mengelak dari seorang pakar yang juga sakit jiwa, bahkan ketika ia bernegosiasi dan menciptakan sendiri persyaratan quid pro quo-nya.

Tak ayal, performa Anthony Hopkins dan Jodie Foster cemerlang. Namun sejujurnya, perhatian saya lebih terbetot pada Buffalo Bill, sosok pembunuh berantai psikopat yang tengah diburu dan disidik dengan harapan bisa memperoleh “pencerahan” dari kegeniusan Dr. Lecter guna mengungkap jati dirinya. Konflik makin menarik, meski tak bisa disebut sangat menegangkan, ketika yang diculik Buffalo Bill adalah putri tunggal seorang senator.

Sayangnya, sampai akhir film, tak diketahui motif gelap yang melatarbelakangi polah Buffalo Bill. Mungkin saya akan tahu ketika membaca bukunya.

Skor: 3/5

Gambar dari flixster.com


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)