flixster.com

Film Jet Li pasti bagus, demikian pameo yang tertanam di otak saya. Jet Li adalah kungfu, kungfu adalah Jet Li. Mas Agus pun bilang, Drunken Master versi Jet Li lebih keren daripada versi Jackie Chan.

Tentu tidak termasuk film-film Hollywood-nya, yang entah kenapa saya tidak bisa suka atau tamat nonton. Mungkin karena orang Asia selalu diberi peran penjahat.

Ketika memilih film ini, saya teringat usulan di sebuah rapat penerbitan (diskusi, tepatnya) untuk memperbanyak fantasi Asia. Atau apa sajalah yang berbau Asia. Rentetan fantasi di meja kerja tak urung menuntut saya banyak mencari referensi, khususnya visual, untuk mempermudah penyelaman cerita. Lagi pula, saya sedang suka (meski tidak getol benar) nonton Pendekar Pemanah Rajawali di Indosiar.

Apa bedanya White Snake di film ini dengan White Snake Legend? Tentu sangat lain. Sebagai manusia, orang sebaik budi Xu Xian yang ingin mengabdikan hidup untuk menyembuhkan orang lain pun bisa jatuh cinta. Kendati sebenarnya bukan cinta yang natural, melainkan ‘diatur’ akibat keisengan seekor siluman ular putih ketika melihat Xu Xian dan kawan-kawan mencari tanaman obat dekat tempat mereka bermukim. Siluman itu pun beralih wujud menjadi manusia untuk menemui Xu Xian¬† di dunianya.

Bhiksu Fahai, yang suatu ketika berjumpa dan berkenalan dengan Xu Xian, justru memerangi iblis dan siluman. Bersama muridnya, ia memburu mereka ke mana pun. Namun Xu Xian sama sekali tidak tahu, wanita cantik yang dicintainya adalah siluman ular putih. Sementara murid Fahai sendiri akrab dengan saudarinya, siluman ular hijau.

Efek khusus adalah kekuatan terbesar film ini, ditambah komposisi warna yang menawan mata. Istilahnya, tidak seru jika Jet Li tidak beraksi. Ada pula dialog yang lucu ketika Bhiksu Fahai dan muridnya naik perahu Xu Xian. Kata sang murid, “Cita-citaku nanti jadi kepala Kuil Jin Shang.” Fahai menghardik, “Lalu aku bagaimana?”

Murid: “Maksudku nanti setelah Guru tiada.”

Fahai: “Jadi kau ingin aku cepat mati?”

Cerita Sorcerer and White Snake juga ditaburi festival dalam kultur Cina sehingga semakin meriah dan terasa nuansa dongengnya. Salah satu bagian film ini ialah romansa, yang membuat saya deg-degan terus penuh ekspektasi agar tidak jatuh ‘datar’ atau standar. Ada ucapan Fahai pada Ular Putih yang cukup berkesan seputar cintanya terhadap Xu Xian, “Then shed your own tears. Don’t let him shed tears for you.”

Mas Agus sendiri berkomentar, “Pesannya: semanis-manisnya setan, dia tetap jahat. Jadi kalau manusia yang manis tapi jahat, ya… silakan simpulkan sendiri.”

Skor: 4/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)