Belakangan ini, Jennifer Aniston kerap memerankan wanita yang merindukan komitmen, cemas akan usia, merasa perlu memasuki tahap selanjutnya dalam hidup, dan semacam itu. Tapi itu memang keahliannya. Saya masih kaget akan variasi karakternya di Horrible Bosses.

Pada saat bersamaan, Jason Bateman mulai kerap muncul di layar perak. Komedi romantis berbau keluarga.

Dan entah kenapa, Patrick Wilson sering nongol juga. Ya ampun, baru kemarin saya nonton dia di Young Adult. Lagi lariskah dengan karakter manis kebapakannya itu? Syukurlah di film ini, sosok yang ia tampilkan, Roland, tidak terlalu menyenangkan. Setidaknya menurut saya. Memang ada orang yang baik, manis, sopan, tapi anehnya malah tidak menyenangkan.

Kassie dan Wally dua sahabat karib yang berlawanan perangai. Kassie berani mengambil risiko, termasuk menjadi ibu tanpa menikah, sedangkan Wally pesimis dan kadang membuat Kassie kesal karena komentar-komentar kurang mendukungnya. Atas pertimbangan usia, Kassie mencari donor agar bisa mengandung. Yang terpilih adalah Roland, pria beristri yang membutuhkan uang karena penghasilannya sebagai pengajar tidak mencukupi untuk hidup.

Dalam pesta perayaan menyambut misi Kassie itu, Wally mabuk. Ia masuk kamar mandi dan tak sengaja menumpahkan sesuatu. Apa itu dan apa yang terjadi, silakan Anda tebak sendiri. Gampang kok, tinggal lihat judul film ini.

Sekian tahun kemudian, Kassie kembali ke New York membawa putranya, Sebastian. Wally kecipratan tugas menjaga bocah itu tatkala Kassie sibuk atau berkencan dengan Roland, yang juga dihubunginya lagi. Kassie sengaja mensyaratkan donor yang terbuka agar tidak menyulitkan bagi Sebastian yang mulai bertanya-tanya. Roland sendiri sudah bercerai waktu itu.

Wally merasakan kedekatan dengan Sebastian. Hubungan manis yang mengharukan. Kasih sayang yang hanya bisa Wally ceritakan pada bosnya, Leonard (Jeff Goldblum – atau koleganya di kantor? Entahlah). Leonard juga yang mengingatkan bahwa Sebastian adalah anak kandung Wally.

Anak itu unik dan mencuri hati. Ia banyak bertanya, gelisah, cemas, terus terang, yang membuat saya merenungkan diri sendiri dan baru tahu – dari Wally- bahwa itu disebut neurotic. Bahasa halusnya, having rough edges. Lebih positif lagi, introspective. Keberpihakan Sebastian pada Wally benar-benar indah dan dalam sementara ia tidak terlalu menyukai Roland yang penuh semangat.

Wally tidak kelihatan menyedihkan pula di mata saya, malah keren ketika jujur pada sahabat Kassie yang lain, Debbie (Juliette Lewis), “What? Yes, I’m an idiot.”

Drama komedi romantis memang banyak, dan The Switch adalah salah satu yang bisa mengolah sudut pandang berbeda serta tema yang tidak menjemukan. Bisa juga dibilang, komedi romantis yang cocok untuk usia saya:p

Poster dari sana

Skor: 4/5

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)