Thriller dan horor serupa tapi tak sama. Semua horor tergolong thriller, namun belum tentu thriller termasuk horor. Kebanyakan menggolongkan horor apabila ada yang berbau mistis, gaib, dan hantu-hantuan. Padahal jika dipikir, bedanya tipis saja. Sama-sama menegangkan, sama-sama membuat takut. Untuk saya pribadi ada tiga subgenre thriller dan horor:

  1. Seramnya lewat penampakan
  2. Seramnya hanya dengan suara dan kilasan-kilasan, sesekali darah
  3. Menegangkan dan sadis, alias berdarah-darah

The Tall Man termasuk yang ketiga ini. Cenderungnya thriller, bukan horor, walaupun suasana film suram dan gambar-gambarnya didominasi warna kelam pula. Saya pernah baca pengelompokan warna sesuai genre film itu di sana.

Cara bertuturnya yang paling menarik. Mengolah kronologis plot bisa menjadikan segar ide yang relatif tidak baru dan menciptakan ketegangan. Setelah mencomot satu adegan yang mendorong tanda tanya di pembukaan film, cerita bergulir ke 36 jam sebelumnya. Saat itulah terbukti apakah dugaan-dugaan penonton, dalam hal ini saya, memang benar atau melenceng jauh.

Di kota yang asing, kota tambang yang sepi dan penduduknya jatuh miskin, perawat Julia (Jessica Biel) harus menghadapi situasi serbakeras. Dia sendirian semenjak suaminya meninggal, kemampuannya diragukan karena suaminyalah yang dokter. Logikanya, sebagai istri yang satu rumah, tentu sudah banyak melihat dan diajari secara tidak langsung mengenai profesi suami. Saya teringat salah satu novel tentang bangsawan sepuh dan istrinya yang masih muda belia. Karena merasa usianya tak lama lagi, sang bangsawan mendidik istrinya dalam banyak hal.

Ada karakter “misterius”, Jenny yang berbicara lewat gambar. Kemudian pacar ibunya yang pecandu alkohol dan menghamili kakak Jenny. Di samping problem yang getir, Julia sendiri dan anaknya David mengutuhkan cerita yang lumayan rumit sebagai konsekuensi pencomotan adegan dan berbaliknya plot di awal tadi. Saya tidak menabukan spoiler dalam hal ini. Ketika kesulitan menyerap lantaran dialognya diucapkan cepat-cepat, saya mengintip wikipedia.

Pada akhirnya timbul pertanyaan, siapakah yang berhak bertindak dan mengambil keputusan ketika seorang anak tidak bahagia dan sering dianiaya? Bagaimana kalau orangtuanya sendiri abai dan tidak sadar masa depan si anak dalam bahaya?

Terus terang, buat saya ini tema yang lumayan berbeda. Tidak mudah pula ditebak kenapa dan siapanya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

2 Responses to “ The Tall Man (2012) ”

  1. gravatar SP Reply
    August 13th, 2013

    Novel ttg pria sepuh dan istri muda belia itu salah satu buku Mary Balogh, bukan? *tebak2 manggis* 😀

    • gravatar Rini Nurul Reply
      August 14th, 2013

      Ups.. ketahuan:))

Leave a Reply

  • (not be published)