Penulis: Mitch Albom

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 312 halaman

Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya, kesedihan akibat waktu yang telah hilang menciptakan kekosongan permanen di hati manusia.

(hal. 89)

Setiap kali mendapati kata “fabel”, yang terlintas adalah hewan-hewan yang mampu berbicara seperti manusia. Sejauh saya meng-googling, tidak ada definisi persis spiritual fable, genre novel terbaru Mitch Albom ini. Namun seperti umumnya fabel, ada pesan moral tersisip dan membuktikan bahwa fabel bukanlah semata konsumsi anak-anak. Sebagaimana The Time Keeper, ihwal manusia yang berambisi sekaligus mempertanyakan ketentuan Tuhan. Ketentuan itu bernama waktu.

Perkara waktu menggiring saya ke situs ini.

Tidak ada kata terlambat atau terlalu cepat. Waktunya sesuai saat yang telah ditentukan.

(hal. 115)

Manusia akrab dengan ketergesaan. Khawatir terlambat. Alangkah banyak yang terkait dengan waktu. Pertemuan, janji, masa berlaku, jatuh tempo, ketepatan, penentuan. Ada hal-hal yang hanya berdampak besar pada waktu tertentu, namun hasilnya berbeda jika dilakukan di hari, detik, saat yang lain. Waktu berarti momen dan kesempatan yang belum tentu kembali.

“Dulu kau menandai menit-menitnya… Tetapi apakah kau telah menggunakannya dengan bijaksana? Untuk berdiam diri saja? Untuk menikmatinya? Untuk merasa bersyukur? Untuk bersukacita dan memberikan suka cita?”

(hal. 116)

Novel ini mengisahkan Dor, seorang yang gemar mengukur waktu. Kala itu belum ada ketentuan valid mengenai siang dan malam, konon “hanya” dipertengkarkan para dewa. Dor larut hingga suatu ketika, satu peristiwa menimbulkan keinginan menghentikan waktu. Atau punya kuasa atas waktu. Keinginan yang dikabulkan secara tak disangka-sangka. Namun apakah ketidakterbatasan, keabadian berarti anugerah? Apakah umur panjang akan mendatangkan kebahagiaan? Untuk siapa? Saya jadi teringat film Higherland dan film lain yang agak senada, Bruce Almighty.

Kadang-kadang, kalau kau tidak mendapatkan cinta yang kauinginkan, dengan memberi kaupikir kau akan mendapatkannya.

(hal. 162)

The Time Keeper tidak mengajak kita, atau setidaknya saya, berkerut kening apalagi berpening-pening. Di dua tempat, di jalur masa yang sama dan hampir bersilangan, ada dua orang yang memegang ekspektasi besar. Victor Delamonte ingin mengingkari takdir akan kematian yang diperkirakan dokter menimpanya sekian bulan lagi, sementara Sarah terlempar dalam ketidakpercayaan diri dan menimbun angan-angan terhadap seorang teman sekolah, cowok tampan bernama Ethan. Dengan bahasa yang indah namun sederhana, tentu tak luput dari kreativitas dan kemumpunian penerjemahnya, pembaca dibawa menekuri problema Sarah, Victor, dan Dor sendiri.

Kita semua mendambakan apa yang telah hilang dari kita. Tetapi kadang-kadang kita melupakan apa yang kita miliki.

(hal. 190)

Bukan kabar baru lagi, betapa manusia ingin menampik datangnya hari tua. Juga maut. Betapa keras keinginan Victor menunda kematiannya, karena sebagaimana sindiran pengarang, manusia merasa berkuasa dan mengira dunia masih membutuhkannya. Saya terkenang suatu tahun, jika mahasiswa angkatan lama tak kunjung merampungkan studi, alangkah berjejalannya penghuni kampus. Pergantian, perubahan, pergerakan sungguh diperlukan. Padahal Victor sedari muda membiasakan diri agar tidak (terlalu) terikat pada apa pun.

Pada zamannya, kalau kau ingin berbicara dengan seseorang, kau cukup pergi menemui mereka. Tetapi zaman sekarang berbeda. Berbagai perangkat dari zaman ini – telepon, komputer – memungkinkan manusia untuk bergerak dengan kecepatan luar biasa. Akan tetapi dengan pencapaian sebanyak itu pun, mereka tidak pernah merasa damai.

(hal. 207-208)

Perjumpaan Dor dengan Sarah dan Victor menunjukkan bahwa segalanya mungkin terjadi. Banyak hal yang saya reguk dari novel ini, seperti dampak perceraian pada remaja. Kegelisahan yang membuatnya haus cinta, ruang kosong yang perlu diisi, dan secara umum keegoisan manusia yang tidak memikirkan konsekuensi ketika keinginannya tercapai.

Di salah satu ulasan di luar sana, ada yang mengatakan buku ini terlalu tebal untuk plot sederhana. Namun tidak bagi saya. Kadang pesan yang familier pun perlu diulang-ulang, sejauh saatnya tepat. Terasa keterlibatan hati penulis kala menggarapnya, seperti yang dia kisahkan dalam proses kreatif berikut lagu-lagu yang mengiringinya.

Bila kita diberi waktu tak terbatas, tak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.

(hal. 287-288)

Skor: 5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)