Baru tahu, posternya sedemikian unik. Lagi-lagi hasil nemu di flixster.com 🙂

Sedari mula sudah terasa, film yang menyabet Palme d’Or ini sangat eksperimental dan “nyeni”. Fotografinya yang dahsyat, rangkaian peristiwa alam yang disajikan begitu indah membuat Mas Agus berkomentar, “Ini semacam film National Geographic.” Menurut Rotten Tomatoes sebagaimana dilansir wikipedia, “Terrence Malick’s singularly deliberate style may prove unrewarding for some, but for patient viewers, Tree of Life is an emotional as well as visual treat.” Dan itu kami rasakan benar.

Terlalu sayang jika langsung memberhentikan meski di setengah jam awal terasa pelan dan saya mengantuk, tapi bukan karena filmnya. Memang saya mudah mengantuk belakangan ini:D

Plot ulang-alik mengisahkan hubungan rumit seorang ayah (Brad Pitt) dan ketiga putranya, terkhusus si sulung Jack yang kemudian meninggal. Bisa jadi Anda, seperti kami, bingung Sean Penn memerankan siapa. Jack ataukah adiknya yang paling dekat. Narasi berganti-ganti sudut pandang, film terasa sepi, sendu, penuh misteri. Namun tetap tercekam oleh si sulung yang memendam amarah, ayahnya yang frustrasi karena tidak meraih impian masa muda, dan ibu yang penyayang tetapi tak berdaya. Kegembiraan Jack bermain dengan kedua adiknya pun tertangkap jelas. Jempol untuk Hunter McCracken.

Nilai psikologis yang dalam menjadikan Tree of Life luar biasa istimewa. Kegelisahan seorang anak, terombang-ambing antara ajaran untuk menjadi baik dan mempertanyakan kewelasasihan Tuhan, tersaji dalam ekspresi, sinar mata, bahasa tubuh yang hebat. Film ini seolah menegaskan, tak perlu bicara dengan kata-kata untuk mengungkapkan sesuatu. Dialognya bisa disebut jarang dan pendek-pendek.

Kalau Anda suka film yang riang dan menghibur serta penuh kejelasan, ini bukan untuk Anda.

Skor 4,75 dari saya, 5 dari Mas Agus.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

2 Responses to “ The Tree of Life (2011) ”

  1. gravatar nung Reply
    June 2nd, 2012

    hehehe, saya ngantuk nonton film ini mbak rin. dan sampai sekarang belum selesai nontonnya 😛

    • gravatar Rini Nurul Reply
      June 2nd, 2012

      Hehehe, beberapa bagian memang pelan, tapi penasaran kalau tidak dilanjutkan. Mungkin Brad Pitt spesialis film ngantuk ya… aku juga ngantuk nonton Meet Joe Black:))

Leave a Reply

  • (not be published)