Yang ini cover baru, dari gramedia.com

Penulis: Sophie Kinsella
Penerjemah: Yasmine Hadibroto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-3, Agustus 2006
Tebal: 560 halaman

Samantha Sweeting mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjadi pengacara sukses. Ia tak keberatan selalu putus hubungan dengan kekasih, tidak memiliki sekadar beberapa menit untuk membenahi apartemennya, juga membuat bingung petugas bersih-bersih karena tidak mengetahui kegunaan perangkat tertentu yang diperlukan untuk mengurus rumah tangga. Saat berada di spa sekalipun, ia menyelundupkan gadget agar tetap dapat dihubungi oleh pihak kantor. Ulang tahunnya berjalan dengan menyedihkan karena keluarganya sendiri tak bisa hadir dan Samantha sibuk memikirkan rapat penunjukan rekanan yang sangat memengaruhi kariernya ke depan.

Jam kerja pengacara, seperti yang digambarkan Sidney Sheldon dalam novel Ceritakan Mimpi-mimpimu, memang luar biasa mengerikan. Demikian pula Samantha yang terjun sebagai pengacara keuangan. Tatkala hari yang dinantikan tiba, tak disangka-sangka ia mendapati sebuah kesalahan fatal akibat kecerobohan menumpuk berkas di meja kerja. Dampaknya, sebuah perusahaan mengalami kerugian lima puluh juta dolar. Karena shock, Samantha meninggalkan kantor dan sampai di sebuah wilayah nun jauh dari London. Dalam keadaan sakit kepala dan letih, ia tak kuasa menampik kekeliruan pasangan suami-istri Geiger yang kaya dan menduganya pelayan yang dikirimkan oleh yayasan.

Saat Samantha tersadar, sudah terlambat untuk meralat semuanya. Ia berbuat nekat, menekuni bidang yang sama sekali asing dan harus membuktikan racauan sebelumnya. Hanya Nathaniel, tukang kebun pasangan Geiger, yang tahu persis bahwa Samantha tidak mengerti apa-apa soal memasak dan urusan rumah tangga.
Seperti biasa, Sophie Kinsella menuturkan cerita dengan gaya menggelitik nan lincah. Sambil menyimak kelucuan demi kelucuan yang terjadi akibat kebohongan Samantha, pembaca diajak merenungkan bahwa manusia tak ada yang sempurna. Seorang pengacara ber-IQ tinggi dan berprestasi menjadi tak berdaya di hadapan alat-alat dapur dan setrikaan. Justru dari lelaki sederhana seperti Nathaniel, ia belajar lebih banyak hal di luar kesibukan yang mendera tidak henti. Kepada pemuda yang menarik hatinya itu, seperti juga pasangan Geiger yang unik, Samantha memilih menutup jati dirinya rapat-rapat.

Apa yang kita genggam erat sekian lama mungkin saja bukan apa yang kita inginkan atau sesuai untuk kita jalani. Begitulah pesan Kinsella dalam novelnya kali ini. Jauh dari hiruk-pikuk dunia hukum yang menegangkan, Samantha meresapi arti melangkah perlahan-lahan, bersabar, dan memanjakan diri sendiri pada saat senggang. Secara tak terduga, ia memperoleh perlakuan yang sangat menyenangkan dari pasutri Geiger. Satu fakta baru bahwa tidak semua majikan suka mencengkeram dan menancapkan kuku pada pegawainya.

Bagi peminat cerita bertema hukum, chicklit satu ini sangat memesona. Di samping berbagai teknis pekerjaan pengacara, kita akan ikut berdebar kala Samantha mendapati majikannya hampir menandatangani surat kerjasama yang hanya menguntungkan sebelah pihak. Dengan cerdik, Kinsella memaparkan bagian ini agar Samantha tetap dapat berkelit sekaligus membantu Eddie Geiger dari transaksi yang berpotensi menjebol kantong. Tak kalah menawan, proses memasak dan membuat kue yang dideskripsikan runut. Sebuah penekanan bahwa urusan rumah tangga tak dapat dipandang sepele. Setiap sub plot mengalir tanpa hambatan, termasuk opini soal Tony Blair yang juga pernah dikemukakan Kinsella di seri Shopaholic. Karakter Samantha digambarkan manusiawi, termasuk kegugupannya kala bercermin dan berlatih menghadapi Nathaniel untuk kencan pertama.

Apa yang kemudian tumbuh di hati Nathaniel dan Samantha merupakan reaksi wajar sebagaimana dapat kita temui di chicklit dan novel bertopik romansa. Kendati pemuda itu dikisahkan membenci pengacara karena dianggap bersalah atas kematian ayahnya sampai-sampai pub keluarga dipasangi peringatan `Pengacara Dilarang Masuk’, Kinsella tidak terjebak dalam sub klimaks yang klise. Idenya berbibit sederhana namun kerap kita temui: pilihan hidup. Sangat tidak mengherankan, novel ini memasuki cetakan ketiga. Tentu saja tak lepas dari peran penerjemah yang menyerap gaya tutur Kinsella dengan piawai. Ini masih ditambah unsur teka-teki yang membuat The Undomestic Goddess berbeda dengan chicklit lainnya [jika Anda telah membaca Shopaholic Goes Manhattan tentu akan tahu].

Satu-satunya `lubang’ yang membuat novel satu ini tidak diganjar lima bintang adalah: Mengapa pihak yayasan tidak menghubungi Trish untuk mengonfirmasi bahwa pelayan yang diinginkannya telah berangkat – atau malah tidak jadi datang?

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)