Cerita di bawah ini dipaparkan oleh seorang editor buku terjemahan in house beberapa lama berselang. Nama perusahaan penerbitan, judul buku, dan lain-lain sengaja tidak disebutkan. Insya Allah tidak mengurangi manfaat informasinya. Pertanyaan saya satu saja, “Apakah asisten editor sama dengan proofreader?” Berikut ini jawaban rincinya.
Asisten editor itu urusannya lebih dari sekadar proofread. Kadang mereka baca juga, sih naskahnya.

Mereka yang berurusan dengan setter dan proofreader, kalau editor urusannya ma penerjemah :D
Jadi misal ada naskah terjemahan baru disetujui, maksudnya baru deal. dioper ke editor
Editor ngontak penerjemah, nego waktu biasanya. Kalau oke, editor ngasih buku yang mau diterjemahkan itu ke astor buat difoto kopi
Terus editor ngisi lembar isian buat dikasi ke sekretaris redaksi, buat bikin SPK. Setelah hasil fotokopi selesai, astor ntar ngasi fotokopi itu ke sekred buat dikirim.
Biasanya ada komunikasi antara editor dan astor itu terjemahannya berapa lama.
Jadi, kalau misalnya si editor kelupaan, astor biasanya ngingetin buat nagih terjemahan.
Terus ntar editor ngontak penerjemah buat nagih (kalau belum nerima hasil)
Penerjemah ngirim via e-mail, editor buka e-mail, ngambil naskah hasil terjemahan
Kadang bisa juga dititip ke astor (tapi ada juga editor yang kerjain sendiri, soalnya kerjaan astor dah banyak banget :D )
Editor melihat hasil terjemahan itu, dan mengambil keputusan apakah mau diedit softcopy sendiri atau mau langsung disetting baru ntar diedit hardcopy :D
Oh ya, setelah ngecek hasil terjemahan, editor bilang ke astor buat: 1. menghitung jumlah halaman (sekarang sih menghitung karakter berarti), 2. kasi lampu hijau untuk pembayaran. Ntar astor menghitung itu, lalu mengurus ini-itu, lalu tau-tau penerjemah udah dibayar aja :D

Setelah editor ngedit, dia kasi naskahnya ke astor, buat disetting (lengkap dengan rincian settingnya seperti apa) dan proofread. Astor yang ngurus itu semua, tau-tau ntar dateng lagi ke editor, ngasi naskah, plus lembar pertanyaan dari proofreader (kalau ada).
Setelah editor menjawab pertanyaan dari proofreader itu… kadang bisa lewat surat, kadang bisa juga ketemu langsung dengan proofreadernya (tergantung astor memutuskannya gimana, kalau kira-kira cukup lewat surat ya udah.. kalau menurut astor harus ketemu langsung ya diketemuin)
Jadi naskah yang udah dicoret-coret itu dikasi lagi ke astor, terus tau-tau… editor udah terima bukti terbit :) )
Padahal naskah itu minimal disettingnya 2 kali, semuanya diurus ma astor :D
Kita belum ngomongin cover dan ilustrasi isi ma sinopsis. Proses satu buku panjang juga kalau diceritain. Itu baru naskah, sekarang cover.
Kalau covernya pakai cover asli, ya udah… editor gak terlalu ngurus, tau-tau jadi aja :) )
Jika pakai cover baru, editor bikin surat order untuk desainer cover
Udah ada pakemnya sih, jadi tinggal isi aja. Biasanya: 1. sinopsisnya gimana, 2. tambahan penjelasan supaya desainernya lebih kebayang, 3. permintaan desain covernya seperti apa
Yang nomor 3 itu misalnya : “ini cerita fantasi yang kelam gitu, jadi saya mau suasana kelam itu tergambar di covernya”.
Pernah waktu garap novel, saya kasi sinopsis dengan permintaan “tolong dimasukkan hewan-hewan seperti burung kolibri (ini tampaknya berperan penting dalam cerita :D )”. Saya lampirkan juga gambar burung kolibrinya (supaya desainer kebayang gimana, jangan pakai kutilang gitu, lho :) ))
Surat order itu diserahkan ke asisten satu lagi, tepatnnya orang divisi desain. Ntar dia yang cariin desainer covernya, kecuali editor punya pesan khusus “minta ke si X bisa?” :D
Kemudian desainer cover bikin 3 sampel cover. Dikirim ke bagian desain tadi.

Bila desain awal belum cocok, dikasi pesan ulang dengan penjelasan lebih jelas seperti “ini buku anak-anak yang ceria, jadi kalau bisa suasana itu tergambar di covernya”.
Setelah sekian kali bolak-balik, sempat miskomunikasi dan akhirnya dibantuin manajer redaksi “jadi maksudnya gini” jadi deh. Kadang ngurus cover juga seru campur bete.
Saya sudah mengatakan “ini dizoom” tapi baru setelah disebutkan manajer redaksi, desainernya mengerti.
Ada cover buku lain yang perbaikannya bolak-balik sampai 5 kali.
Nah, setelah dapat cover yang sesuai, yang bakal dipakai, tinggal kasi tau astor dan kasi filenya ke astor, ntar astor yang merapikan. Kalau bukunya mau ditambah ilustrasi,  editor terpaksa membaca :) )
Jadi sambil ngedit terjemahan, sambil mencari adegan mana yang pantas buat dibuat ilustrasinya, biasanya yang dramatis atau yang penting. Buat file sendiri, biasanya di tabel.
Isinya: 1. nomor bab (gak semua bab ada ilustrasinya, jadi perlu nomor bab), 2. salinan teks yang bakal dibuat ilustrasinya.
Setelah sekian ilustrasi (tergantung bukunya, bisa 10, bisa 20), yang termasuk 1. adegan, 2. simbol bab, 3. ilustrasi pemisah bab (tergantung butuhnya apa)… si file itu diserahkan ke bagian desain lagi dan ditembuskan ke astor
Biasanya sih korespondensi selalu ditembuskan ke astor :D
Ntar bagian desain yang order ke ilustrator, terus setelah jadi dikasi ke editor, untuk dicek apakah sudah oke atau belum, apakah ada yang perlu diganti atau nggak :D
Setelah oke semua, tinggal bilang oke ke bagian desain (ya, silakan dibayar) dan oke ke astor, kita pakai ilustrasi itu semua.
Sinopsis editor yang bikin, usulan judul juga. Basanya diminta usulan judul 10, usulan sinopsis 5 . Itu juga belum tentu disetujui.
Kadang kirain udah oke, eh… sekian bulan kemudian atasan bilang, “judulnya masih kurang gimana gitu, ganti!” atau sinopsisnya.
Kalau sudah oke, tinggal kasi lagi ke bagian desain. Cover dipadukan dengan sinopsis, ditata agar menawan dan enak dibaca. Jika kepanjangan, dipotong (misalnya ganti kata).

Buku nonfiksi lebih ribet, soalnya kadang perlu pesan “ntar warna font-nya yang ijo ini, ya…. dicatet deh kode warnanya”. Adakalanya pakai hiasan pinggir atau apa gitu, jadi order ke setternya hiasan pinggir dulu.
Kemudian setter bawain sampel, seperti biasa 3, dipilih-pilih, belum cocok, diganti lagi “coba kalau gini gimana”. Sampai akhirnya dapet yang pas (setelah membuat setter jengkel :D )
Setelah pas, baru naskahnya disetting.
Intinya, astor itu kerjanya kayak tali. Dia mesti mengikat semuanya, editor, proofreader, setter, desainer, ilustrator :D
Kadang editor itu dikejar-kejar astor, lho :) ) “Naskah udah diedit belum? Covernya udah ada? Ini kan jadwalnya terbit bulan depan, manaaa??”
Pokoknya, tanpa astor, editor pasti kelimpungan.

Itu baru untuk satu buku, sedangkan satu editor tentu ditarget setiap bulannya lebih dari satu. Belum lagi jika merangkap buku lokal. Saya pribadi tidak yakin mampu menjalani tugas segudang begitu. Anda bagaimana?


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)