Sumber: blog penulis

 

 

Subjudul: Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis     : N. Mursidi
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Cetakan   : Pertama, 2013
Tebal       :  xiv + 245 halaman
ISBN       : 978-602-020-594-6
Harga      : Rp44.800,00

 

Satu saja bekal membaca buku ini: jangan dipusingkan oleh genre. Tidak salah dilabeli novel kendati kisahnya nyata, nama-namanya kemungkinan besar juga nyata. Kerap kali saya membaca di internet, orang bersikukuh menyebut sebuah buku “novel” padahal nonfiksi. Biasanya mereka melekatkan itu pada memoar, yang umum dituturkan dengan gaya naratif. Anggap saja itu kebingungan yang menguntungkan.

Bisa dikatakan TBK menjumpai pembaca yang tepat dari segi generasi, dalam hal ini saya. Saya seperti larut dalam lamunan menyimak cerita-cerita yang “mustahil” di masa sekarang, misalnya sewa kos sepuluh ribu per bulan (walaupun kondisinya memang cukup memprihatinkan), membeli komputer seken masih menjadi pilihan sebab kala itu, masih banyak barang lama yang “sehat”. Kebalikan dengan sekarang, seiring makin cepatnya teknologi berganti, meningkat pula barang berusia pendek yang tidak tahan banting.

Menariknya, kebersikerasan sang tokoh sentral (alias penulis sendiri) tidak mengesalkan seperti ketika saya membaca “kisah motivasi” kebanyakan baik yang berformat fiksi inspiratif maupun nonfiksi. Mungkin karena profilnya relatif membumi, membuktikan mahasiswa dengan nilai kuliah biasa-biasa saja (tanpa membenarkan bolos) bisa berhasil meraih cita-cita. Tak pelak, ketika sang ibu mendoakan meski mengaku tidak begitu paham apa yang ditempuh dan dilakukan putranya, amat menyentuh hati saya.

TBK bermanfaat dan seru juga untuk disimak para penulis dan peminat kepenulisan, khususnya yang ingin memuatkan resensi di media massa. Bukan soal perjuangan dan kiat-kiat belaka, namun mencamkan bahwa pada suatu masa orang harus berupaya lebih keras karena Google belum dikenal. Ibarat petani yang berproses panjang untuk memanen, cukup dengan bahasa yang sederhana TBK memaparkan jatuh-bangun (disertai tawa) para penulis resensi yang terpaksa mengganggu sesama penghuni kos dengan suara mesin ketik, contohnya. Tatkala penulis dulu-duluan mengirim resensi dan kadang menelikung pemilik buku yang “lebih bermodal”, saya tergelak lantaran ingat pengalaman sendiri. Menatap jajaran buku menawan di toko dengan kantong tipis sementara orang lain memenuhi keranjang belanjanya bagai membeli jajanan itu hanya pedih sejenak, sekarang sangat manis untuk ditertawakan.

Tak ketinggalan kala penulis nyambi di rental komputer untuk mengetik makalah. Alangkah indah kenangan satu itu, yang juga pernah kami jalani:D

Kekurangan buku ini sedikit saja, beberapa bagian awal terasa diulang-ulang. Tidak mencolok memang, yang lebih saya perhatikan adalah ujung bab yang kadang terasa “lepas” dengan kelanjutannya. Saya sempat bingung ketika menyimak temuan penulis di angkringan bahwa resensinya di koran dijadikan bungkus makanan. Timbul dugaan bahwa itu dimuat tanpa kabar, namun saya ingat-ingat dan baca lagi, bukan itu maksud penulis. Cerita trik pedagang angkringan dengan teh panasnya pun asyik disimak:)

Akan lebih menawan lagi apabila penutup-nya “dimuluskan”. Tidak salah memilih kalimat seperti itu, namun menurut saya terasa “menggantung” untuk buku yang panjang dan lebih cocok untuk artikel media cetak. Atau barangkali penulis hendak menceritakan kelanjutan serba-serbi wartawan di buku lain? Siapa tahu:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)