Kedengarannya dekat, walaupun jalannya agak nanjak-turun. Kedengarannya mudah saja mondar-mandir dari sana ke rumah setiap hari hanya karena saya pernah jalan kaki suatu pagi. Satu kali.

cimekar

Mula-mula

Delapan belas tahun lalu, saya mengajar privat di daerah Utara. Waktu itu Bandung belum semacet parah sekarang, jadi saya masih sanggup naik bus dari rumah orangtua di Selatan pagi-pagi ke sana. Proses belajar dilaksanakan di paviliun rumah murid saya itu. Semacam ruang kerja mungil yang dilengkapi kursi tamu, ada dua ruangan kecil berderet di sisinya. Satu kamar tidur mungil dan satu kamar mandi di lantai bawah. Bagian atas, hampir menyentuh langit-langit, adalah ruang santai lapang untuk menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Murid saya itu bilang, jika lelah lembur malam-malam, beliau sering tidur di paviliun tersebut.

Waktu itu saya sudah tertarik, namun bahkan belum terpikir bahwa menikah dengan sesama pekerja lepas pun membutuhkan dua komputer. Saya masih naif mengira, satu komputer bisa digunakan bersama dan bergantian.

Dua tahun terakhir, saya baru sadar bahwa bekerja satu meja bersebelahan dengan pasangan tidak selalu “seindah” yang dibayangkan. Mungkin karena itulah saya tidak cocok jadi orang kantoran. Kebutuhan akan privasi membengkak. Saya berkhayal bersama seorang kawan pekerja lepas, untuk mengontrak rumah dekat-dekat tempat tinggal sendiri sekadar berganti suasana. Namun karena satu dan lain hal, suami tidak menyetujui tempat yang saya tunjuk.

 

“Ngantor” Lagi

fc

Tercapailah perlahan-lahan bayangan “ngantor” ini sekitar pertengahan tahun lalu. Kami mengontrak rumah milik tetangga yang cukup dikenal, belum lama direnovasi. Jaraknya tiga ratus meter saja dari rumah, tapi sudah masuk desa tetangga. Bukan untuk kepentingan kerja saya saja, melainkan memindahkan lokasi kedai jasa fotokopi dan ATK kecil yang kami kelola dari kecamatan sebelah setelah tiga tahun beroperasi. Apa lagi alasan terkuatnya kalau bukan sewa yang lebih terjangkau dan harapan untuk bisa mengawasi sekaligus menjaganya lebih sering. Dari segi bisnis, cukup menjanjikan karena di lereng gunung ini masih jarang sekali tempat fotokopi.

Lantaran yang disewa satu rumah, jadinya kami punya ruang kerja terpisah. Suami di dekat ruangan fotokopi bersama printer dan alat-alat lainnya, sedangkan saya menempati kantor utama di depan. Setelah beberapa bulan, seorang teman pekerja lepas bertanya baik-buruknya karena dia mempertimbangkan hal serupa. Sebenarnya di Bandung pun ada tren coworking space, beberapa kali saya tonton liputan dan penjelasannya di Bloomberg TV. Tetapi itu bukan jawaban untuk kondisi kami, karena letaknya nun di Utara sana yang padat dan jauh dari anggaran.

Untuk menjawab pertanyaan rekan pekerja lepas tadi, berikut sisi positif berkantor di luar rumah:

  • Karena posisinya relatif lebih dekat dari gerbang kompleks, di sana bisa dijadikan tempat menerima relasi/klien yang bertamu. Ini keuntungan besar buat saya yang malas beberes dan bebersih, apalagi dadakan dan di tengah musim tenggat. Bila hendak turun gunung, dari sana lebih cepat juga daripada dari rumah.
  • Masih tentang memisahkan urusan kerja (suami terutama) dan rumah, kebanyakan tetangga sudah tahu di mana suami bisa ditemui pada jam-jam tertentu. Memang tidak rutin benar karena kami relatif fleksibel, lagi pula terlalu “tepat waktu” bisa memudahkan pengintaian oknum maling.
  • Bekerja di kantor (kami sebut begitu) terkadang cukup produktif karena di sana tidak ada TV, radio, dan hanya satu operator yang bersinyal stabil. Sempat agak repot jika perlu online segera, suami harus pulang dulu. Tetapi setelah menemukan satu operator yang bisa berfungsi di sana, masalah ini dapat diatasi. Kalau saya ngantor, koneksi di-wifi-kan ke ruangan suami sebab sinyalnya hanya bagus di satu ruangan itu.
  • Faktor lain penjaga produktivitas: ruangan tidur yang tidak terlalu nyaman dibandingkan di rumah. Saya sepakat dengan presenter Bloomberg ketika mewawancarai seorang perintis coworking space, “Godaan kerja di rumah, biasanya pengen tidur.” Saya sudah sengaja memasang pojok kerja di luar kamar, tapi kasur tempat nonton TV persis di sebelah meja. Kantor dilengkapi ruang tidur yang sejauh ini masih secukupnya saja.
Photo-0564

Sedangkan sisi negatifnya begini:

  • Berkomitmen bisnis menuntut kesiapan meladeni konsumen kapan saja. Seringnya sih, tamu toko sampai menyusul ke rumah jika butuh fotokopi/print pagi-pagi dan kantor belum buka. Sebenarnya wajar, pedagang mana pun butuh waktu beberes sedikit, mungkin nyuci baju, mandi, dan sarapan (mandi sih kadang-kadang di kantor saja). Terjadilah jempalitan waktu. Saya jadi maklum mengapa mbakyu yang buka loket listrik sampai harus menutup warung selama satu jam jika hendak memandikan anak bungsunya.
  • Masih ada hubungannya dengan di atas, ketika konsumen butuh mendadak dan suami sedang turun gunung untuk urusan kerja di luar dagang/kulakan. Kami punya printer kecil yang merangkap fotokopi dan hanya itu yang bisa saya operasikan (baca: suami dan asisten saja yang mampu memfotokopi dengan mesin besar). Kendalanya, printer ini lambat dan tidak andal untuk dokumen yang banyak. Tapi insiden semacam ini relatif jarang terjadi.
  • Seperti kata seorang arsitek, punya rumah seperti punya anak. Pemeliharaannya kontinyu. Pengeluaran rutin kami jadi ganda, itu sudah disadari jauh-jauh hari. Kami tidak begitu mempersoalkan perbedaannya sebab semasa ngontrak di kecamatan sebelah (yang termasuk luar kota), tempatnya berupa ruko dan agak terbatas. Tambahannya, sekarang kewajiban sosial kami jadi dobel. Ikut kerja bakti di dekat kantor, masa yang dekat rumah absen? Kondangan juga begitu. Kami harus beradaptasi dengan cara hidup tetangga yang berbeda, sebab lingkungannya juga lain.
  • Distraksi bukannya tidak ada. Tetangga rumah sudah mafhum jika saya di dalam tapi tutup pintu, biasanya lagi kejar target. Namun kantor terletak di jalur utama yang lumayan ramai. Banyak pedagang lewat, berbagai kendaraan yang riuh, dan merupakan kawasan bisnis kecil-kecilan. Saya masih belajar beradaptasi agar bisa fokus bekerja dalam suasana seperti itu.

 

Meja kerja merangkap meja makan

Meja kerja merangkap meja makan

Tantangan Lain

Karena masih kuliah, saudara yang menjadi asisten paruh waktu kami kadang cuti agak lama. Solusinya terdengar sederhana: pindah ngantor. Sejak hari pertama sudah kelihatan, menata waktunya pun butuh kerja keras.

Apa pasal? Kami sama-sama tengah menghadapi tenggat. Kami sepakat untuk lebih fleksibel lagi. Meski ada dapur kecil di kantor, memasak sejauh ini lebih praktis dilakukan di rumah. Kami bawa bekal seperti petani nyawah, berupa nasi dan lauknya. Tidak lupa kudapannya. Kadang cuci piring dulu kalau sempat, kemudian berusaha agar di kantor tidak banyak piring-gelas kotor juga.

Semua dijalani dengan senang. Sewaktu hujan lebat, konsumen jarang yang datang. Hikmahnya, kami bisa mengangsur tenggat lebih banyak. Paling-paling rada termenung ketika sudah lepas maghrib dan hujan menderas. Untuk sementara, istirahat lebih kondusif di rumah. Jadilah kami pulang di atas jam tujuh, berjas hujan… dan dua hari kemudian saya tumbang. Tidak parah sih, tapi cukup menyadarkan saya bahwa seiring usia, penyesuaian memang jadi lebih lama:D Hati kecil saya malu, ingat tetangga yang ngantor tiap hari ke Cimahi. Pergi pagi, pulang sore (nyampenya sih tidak tentu).

Pemandangan sekitar kantor

Pemandangan sekitar kantor

Dampak lainnya masih ada, namun tidak kami anggap masalah. Kadang-kadang kepentingan salah satu tempat kami tunda dulu. Rumah jadi makin berantakan selagi kami pergi-pulang. Membawa dua laptop mondar-mandir juga capek, tapi kami lebih tenang dengan cara itu. Mungkin ada jalan keluar lain bila PC di kantor sudah diperbaiki. Sekarang ini sebagian berkas kerja, mouse, dan kipas laptop kami tinggalkan di kantor untuk mengurangi beban sekaligus “memaksa” saya istirahat di rumah.

Oh ya, cara ini terasa semakin mirip ngantor karena kami tidak bisa bekerja dengan baju rumah supersantai lagi. Kalau mau ke kantor, kami ganti pakaian dulu. Minimal bawa sepatu/sandal yang pantas untuk ketemu klien, kalau-kalau ada telepon atau tamu mendadak.

Kami berdua masih memutar otak untuk menyiasati keadaan, mengingat musim tenggat suami masih cukup rapat beberapa bulan ke depan. Ada yang mengusulkan menggunakan jasa asisten sementara, tapi masalahnya tidak segampang itu. Seperti mencari jodoh, bukan berarti ada yang langsung mau mentang-mentang lagi “kosong”.

 

To Grow Up Is To Accept Vulnerability

Meja kerja suami, sekalian mengasuh ponakan

Meja kerja suami, sekalian mengasuh ponakan

Kutipan Madeleine L’Engle itu saya peroleh dari salah satu episode Criminal Minds. Namanya perubahan, tidak selalu enak memang. Prinsip fleksibel lagi-lagi merupakan solusi yang paling tepat. Kami tidak menyebut berdagang itu sambilan, namun kami juga tidak mau mengesampingkan kegiatan di luar kedai seperti terjemahan dan suntingan buku. Suami pun masih aktif di RT, yang sedikit-banyak mendukung usaha kecil ini.

Saya sangat bersyukur atas pengertian dan perhatian beberapa kenalan dan kerabat. Contohnya, Pak RT kami. Beliau sibuknya bukan kepalang, namun sesekali menjenguk kami di kantor. Sering kali jika hari sudah gelap. “Sudah malam, kalau tamu nggak habis-habis, kapan istirahatnya?” begitu kata beliau. Tidak jarang Pak RT yang mematikan lampu teras bila lewat kantor pagi-pagi. Atau menyalakan lampu rumah jika kami belum pulang.

Yang paling terasa, “ngantor” bikin saya makin betah di rumah. Buruk-buruk papan jati, kata orang Sunda.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Tiga Ratus Meter ”

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 26th, 2015

      Pernah, tapi waktu itu masih puing-puing.

Leave a Reply

  • (not be published)