Sumber: gramedia.com

Penulis: Agustinus Wibowo

Penyunting: Hetih Rusli

Co-editor: Lam Li

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2013

Tebal: 554 halaman

 

Sedari mula, berdasarkan pengalaman membaca buku-buku sebelumnya dan intip sana-sini, saya tidak berniat memandang memoar ini buku perjalanan “biasa”. Membaca Titik Nol membuktikan betapa saya ini tipe pembaca kelas siput. Kalau boleh berdalih, penyebab utamanya adalah suasana hati yang buruk. Saya harus menunda agar bisa membaca plot kedua ihwal penderitaan panjang ibu penulis yang sakit keras dengan “biasa-biasa saja” karena ibu saya sendiri tengah sakit, ngeri oleh berbagai diagnosis termasuk kekhawatiran akan kanker dan hal lainnya. Sebut saya sensitif, namun membaca detail sakit seseorang (dalam fiksi sekalipun) kerap membuat badan tidak enak sendiri. Terlebih dewasa ini genre sick-lit (nemu istilah di blog Uci) sedang naik daun.

Tentu bukan salah penulis, bukan pula salah penerbit menentukan masa cetak. Saya tetap berminat memperhatikan gaya “baru” penulis yang merombak dua puluh kali sejak draft perdana dan melihat peningkatan puitisme di dalamnya. Memang tidak mudah “membongkar” sesuatu yang bersifat personal. Kisah penulis yang kadang bimbang karena tak bisa pulang dalam kondisi genting, bahkan sampai dianggap tidak peduli orangtua atau keluarga, menawarkan perenungan tersendiri. Banyak orang yang harus pergi jauh dan terpaksa tidak dapat mendampingi keluarga terkasih di kala membutuhkan. Bepergian lama karena situasi tugas, menuntut ilmu, dan lain sebagainya yang dilematis. Tinggal yang “di rumah” mau berusaha memaklumi atau tidak. Mungkin terkesan berpihak, tapi buat saya, saat membaca sering kali perlu menentukan posisi.

[sws_yellow_box box_size=”100″] Filsuf China mengatakan, “Kenikmatan hidup itu bagaikan ruang kosong dalam kamar.” (hal. 314) [/sws_yellow_box]

Waini, kata anak gaul.

Petualangan bukan tanpa tujuan, kira-kira begitu pesan penulis yang saya tangkap. Nendang sekali ketika di suatu halaman dia menegaskan, “Buat apa sombong karena bisa jalan-jalan?” Beberapa hal dalam cerita buku ini dapat diterapkan secara umum, bukan semata menyangkut bepergian dan bertualang. Contohnya, nasihat Lam Li agar belajar langsung dari pengalaman hidup dan tidak bergantung pada buku panduan. Saya teringat temuan di FB ini:

Titik Nol ditutup dengan sangat mengharukan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)