Seorang teman bilang, biasanya film buatan Eropa unik, tidak mainstream, dan sangat “nyeni”. Buat saya, kadang saking nyeninya, saya tidak ngerti. Dulu saya pura-pura mengerti, tapi lama kelamaan membiarkan saja. Barangkali memang ada bagian yang tidak perlu dipahami.

To Rome with Love jelas bukan komedi romantis yang lazim, tidak sekadar menguarkan aroma percintaan dengan pemeran yang cukup banyak. Setelah beberapa saat, saya memutuskan paling tertarik menyimak kisah gadis Amerika yang hendak menikah dengan pria Roma. Yang terjadi bukan hanya benturan budaya, melainkan keberseberangan antarbesan. Ayah si gadis Amerika (Woody Allen) yang bergerak di industri hiburan sulit cocok dengan calon menantunya yang pengacara probono, pembela kaum papa, dan tidak mengejar materi. T

ahu-tahu ada kemenarikan besar: sang calon besan bersuara emas dan layak menjadi penyanyi opera. Susah payah si pria Amerika membujuknya agar mau mengomersialkan suara itu, sekalipun dia hanya penyanyi kamar mandi. Istri sang pencari bakat sendiri, seorang psikiater, meyakini dia semata mencari kegiatan karena tidak rela pensiun.

Pesannya kentara: tidak semua orang menghendaki limpahan uang dan ketenaran. Profesi seperti sang pemilik suara emas pun, yakni pengurus jenazah, tampak membosankan namun dia bahagia. Istimewanya, godaan “kesempatan yang perlu disambut” dihadapi dengan tidak biasa oleh pria tersebut.

Efek buruk ketenaran dipaparkan dalam kisah lain, pria bernama Leopoldo Pisanello yang entah kenapa mendadak disorot kamera dan diwawancarai sekecil-kecilnya sampai dikuntit ketika bangun pagi. Tadinya saya mengira ada kekeliruan, tertukar dengan seseorang, atau semacamnya. Namun kisah Leopoldo mengandung sindiran bahwa kadang media seperti mencari-cari bahan dan objek untuk dibombastiskan, mengangkat kehidupan seseorang, lalu menjatuhkannya seketika. Leopoldo mengalami itu setelah menikmati sisi menguntungkan kepopulerannya.

Spoiler Inside SelectShow
Atau mungkin manusia sudah banyak yang demikian, yang penting “ngetop”.

Sebenarnya kisah pertemuan Jack (Jesse Eisenberg) dengan John (Alec Baldwin) menarik juga, namun akhirnya mudah ditebak. Karena agak aneh, saya sempat mengira John hantu belaka.

Masih ada satu lagi, pasangan pengantin baru yang hendak menetap di Roma dan berkenalan dengan keluarga besar suami. Nahasnya, si istri tersesat ketika akan mencari penata rambut. Berlebihan memang, namun bisa saja terjadi. Si suami terpaksa memperkenalkan wanita penghibur yang nyasar ke kamarnya (Penelope Cruz). Bagian kocaknya bagi saya ketika

Spoiler Inside SelectShow
. Ending-nya pun “gila”.

Bagaimanapun, film ini cukup menghibur.

Skor: 3/5

Sumber poster: flixster

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)