What Happens In Vegas

Cameron Diaz bukan aktris yang buruk, jadi saya belum menyerah berharap dia tampil senatural aktingnya di The Holiday. Film komedi romantis ini memang sudah lama, dan ternyata plotnya menarik sekali. Pertemuan yang tidak sengaja, kondisi kedua tokoh sentral yang sama-sama ambruk, serunya lagi Jack Fuller (Ashton Kutcher) dipecat oleh ayahnya sendiri.

Secara keseluruhan film ini menyindir pasangan (muda) yang terburu-buru dan ribut berkepanjangan soal uang ketika memutuskan berpisah. Pengadilan memutuskan percobaan konseling lebih dulu, karena mereka belum merasakan kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Muncullah kejutan-kejutan yang mengesankan sehingga film yang terkesan haha-hihi ini membuat saya merenung. Apalagi hasil persidangannya. Top deh, Kutcher dan Diaz.

 

The Face of Love

Sejak nonton Radio, saya memang jatuh ngefans sama Ed Harris. Di film lain pun, seandainya dia jadi “rada” antagonis.

Ngapain nonton om-om dan tante-tante kasmaran? Nah ini bedanya. Di kehidupan nyata, banyak saya temui wanita atau pria usia senja (kalau bukan lansia) yang “limbung” sepeninggal pasangan hidup tercinta. Bermacam-macam sebabnya, penyesalan, merasa akhir hidupnya tidak “wajar”, semua menggiring pada pengingkaran dan menghambat langkah selanjutnya. Nikki (Annette Bening) mengurung diri dalam kenangan, terutama setelah menemukan pria yang sangat mirip dengan mendiang suaminya. Begitu cinta Nikki pada sang suami sehingga menolak ketertarikan tetangga dan teman keluarga (Robin Williams). Film ditebari suasana indah karena Tom seorang pelukis. Hubungannya dengan mantan istri pun baik. Namun ternyata Nikki dan Tom sama-sama menyimpan rahasia. Akhir film ini sangat realistis, dan tetap romantis menurut saya.

 

Begin Again

Pada dasarnya saya suka film yang bercerita tentang musik, dengan catatan musiknya bisa saya nikmati dan bukan lagu opera dari awal sampai akhir. Selain rekomendasi beberapa teman, saya tergerak nonton karena pujian penyiar radio akan akting Adam Levine. Tidak salah memang pujiannya. Dialek Inggris Keira Knightley kental sekali, Catherine Keener menawan seperti biasa, dan kali ini saya senang menyaksikan Mark Ruffalo (ada di mana-mana!) memerankan ayah. Sudah umurnya, lah:p

Lagu Maroon 5 yang berjudul Lost Stars membayangi kuping saya cukup lama seusai nonton ini. Ending-nya juga oke banget.

 

Men, Women, and Children

“Tumben nonton Adam Sandler,” kata Masnya yang tahu persis saya suka jengah nonton film-film komedi Sandler yang slapstick dan … gitu deh. Namun insting saya benar, film ini bukan komedi. Murni drama dan Sandler memerankan ayah yang bermasalah dalam rumah tangga. Ceritanya cukup “mencemaskan” tapi lumayan kekinian sehingga perlu ditonton bagi saya, menyangkut dahsyatnya dunia digital dan ponsel pintar di kalangan remaja. Saya baru ngeh kalau ada tiga gadis ngobrol sambil pegang ponsel, dua di antaranya bisa chat tentang yang satu dan mengatainya. Sesuai kebutuhan cerita, ada unsur-unsur “dewasa” yang ditampilkan tetapi dapat dikatakan lumayan sopan untuk film bertema sejenis.

Rosemarie DeWitt berperan di luar kebiasaan, Kaitlyn Dever pun tidak serapuh dan semanis film-film terdahulu. Film ini bikin saya terpekur akan ringkihnya emosi manusia, terutama remaja, dan kaitannya dengan media sosial.

 

They Came Together

Alasan utama saya nonton, ya Paul Rudd. Penceritaannya terkesan kurang masuk akal, yaitu kilas balik yang panjang dalam obrolan kencan ganda di restoran. Namun alur yang cepat dan humor yang mengalir wajar membuat saya bisa ngakak juga (tumben!). Paul Rudd masih memerankan pria manis yang baik hati, mudah disukai anak-anak, dipertemukan takdir dengan wanita yang menyenangkan gara-gara urusan persaingan bisnis. Cerita meluncur ke arah yang tak terduga, rasanya belum pernah ada kisah komedi romantis seperti itu. Beberapa adegan memang agak dramatis dan komedi banget… namun bisa dinikmati sebagai hiburan ringan.

 

A Long Way Down

Halo, Nick Hornby! Susah ya mau bikin cerita komedi yang tidak satir?:)) Selalu ada sesuatu dari karya NH sehingga saya mau nonton film ini. Mempertemukan empat orang berlatar belakang berlainan yang sama-sama berniat bunuh diri di malam Tahun Baru. Di satu lokasi.

Setelah urung, seperti apakah hidup harus dijalani? Karena merasa punya niat sama, mereka jadi teman. Bertukar pikiran, berbagi penyebab yang mendorong mereka ingin nekat. Ada wanita yang mengundang simpati karena merawat anaknya yang sudah dewasa selama bertahun-tahun. Teman-temannyalah yang mengajak dia lari sejenak dari rutinitas. Bukan berarti yang lain kurang “mengenaskan”. Sorotan media, aib, dan tekanan… ada juga yang memang tidak tahu kenapa ingin mati. Kadang-kadang sekadar “kelam”, namun saya tidak bisa berhenti menonton. Sekalian ingin tahu siapa yang akhirnya memutuskan melaksanakan niat yang dulu tertunda.

 

The Woman In Black 2: Angel of Death

Entah karena sekuel, entah karena apa… saya berekspektasi terlalu tinggi untuk film ini. Mungkin karena Daniel Radcliffe terlalu berhasil di film pertama. Tentu saja aneh jadinya kalau dia “dibangkitkan lagi”.

Satu-satunya yang menjadikan ini sekuel adalah hantunya yang masih sama. Penyebab gentayangannya lain, mungkin ada lebih dari satu wanita bergaun hitam? Sayangnya banyak unsur yang jadi tempelan semata dan dipaksakan. Bila Anda takut nonton horor, jangan khawatir. Nggak seram sama sekali, kok.

 

The Good Lie

Menarik juga nonton film berbahasa Afrika walau ternyata tidak melulu di lokasi itu. Ceritanya tentang para korban perang yang menjadi imigran di Amerika dan tercerai. Saya mengira akan ada melankolisme yang sudah sering ditemui di film senada, namun kisahnya justru lembut dan menyentuh secara wajar. Penyesuaian para pengungsi Sudan dengan dunia baru yang canggung tidak mengandung bully (bosan kalau ada itu lagi), tidak juga jadi bahan pengundang geli yang cenderung eksploitatif. Saya senyum melulu karena sopannya pemuda-pemuda Sudan yang menanyakan nama Carrie (Reese Witherspoon), kekagetan Carrie akan upaya mereka membalas kebaikannya, komentar tentang status lajangnya, dan banyak lagi. Drama persahabatan tulus yang mengharukan sekaligus pelajaran bersabar.

 

Still Alice

Kadang film tentang pasien sakit parah bisa menyesakkan, jadi saya tidak langsung nonton. Banyak pujian untuk bukunya (yang baru saya tahu belakangan). Begitu mulai, bayangan saya langsung jalan: Oh, begini ya kalau Grammar Nazi kena Alzheimer.

Julianne Moore berperan bagus, Alec Baldwin juga layak diacungi jempol. Saya baru tahu bahwa Alzheimer termasuk penyakit genetis, namun salut karena salah satu anak sang profesor tetap menjalankan rencana untuk mengandung. Kristen Stewart dengan tampang “malasnya” pun bisa unjuk gigi di sini. Saya suka dialognya yang kira-kira menyatakan penolakan dipaksa kuliah “hanya” karena ibunya sakit.

 

August: Osage County

 

Cerita orangtua sakit? Sudah biasa. Yang ini ibu sakit, ditemani pengurus rumah, tapi berperangai “unik” dan gemar mengonsumsi narkoba. Anak-anaknya dipanggil datang karena tahu-tahu sang ayah yang dikenal sebagai penyair doyan mabuk menghilang.

Film yang diangkat dari drama ini kelam sekali, tapi Masnya saja sampai melek dari tidur siang karena terpesona. Natural, hidup, dan emosinya bergolak. Karena ada masalah besar dalam keluarga itu, wajar saja banyak amarah dan umpatan. Saya nonton sambil setengah melamun. Segala perilaku “merepotkan” menyelubungi stres, beban mental akibat menyimpan sesuatu sekian lama. Obrolan tentang almarhum, warisan, pembagian barang, pertemuan saudara dan rencana hidup, kritik dan teguran… adegan favorit saya adalah saat makan malam pemakaman dan duduk bertiga menjelang klimaks.

Meryl Streep dan Julia Roberts keren banget nget nget. Kesannya membekas terus.

 

What Happens In Vegas Sumber Cameron Diaz bukan aktris yang buruk, jadi saya belum menyerah berharap dia tampil senatural aktingnya di The Holiday. Film komedi romantis ini memang sudah lama, dan ternyata plotnya menarik sekali. Pertemuan yang tidak sengaja, kondisi kedua tokoh sentral yang sama-sama ambruk, serunya lagi Jack Fuller (Ashton Kutcher) dipecat oleh ayahnya sendiri. Secara keseluruhan film ini menyindir pasangan (muda) yang terburu-buru dan ribut berkepanjangan soal uang ketika memutuskan berpisah. Pengadilan memutuskan percobaan konseling lebih dulu, karena mereka belum merasakan kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Muncullah kejutan-kejutan yang mengesankan sehingga film yang terkesan haha-hihi ini membuat saya merenung. Apalagi hasil persidangannya. Top deh, Kutcher dan Diaz.   The Face of Love http://www.youtube.com/watch?v=HBZtFk1VUeo Sejak nonton Radio, saya memang jatuh ngefans sama Ed Harris. Di film lain pun, seandainya dia jadi "rada" antagonis. Ngapain nonton om-om dan tante-tante kasmaran? Nah ini bedanya. Di kehidupan nyata, banyak saya temui wanita atau pria usia senja (kalau bukan lansia) yang "limbung" sepeninggal pasangan hidup tercinta. Bermacam-macam sebabnya, penyesalan, merasa akhir hidupnya tidak "wajar", semua menggiring pada pengingkaran dan menghambat langkah selanjutnya. Nikki (Annette Bening) mengurung diri dalam kenangan, terutama setelah menemukan pria yang sangat mirip dengan mendiang suaminya. Begitu cinta Nikki pada sang suami sehingga menolak ketertarikan tetangga dan teman keluarga (Robin Williams). Film ditebari suasana indah karena Tom seorang pelukis. Hubungannya dengan mantan istri pun baik. Namun ternyata Nikki dan Tom sama-sama menyimpan rahasia. Akhir film ini sangat realistis, dan tetap romantis menurut saya.   Begin Again Pada dasarnya saya suka film yang bercerita tentang musik, dengan catatan musiknya bisa saya nikmati dan bukan lagu opera dari awal sampai akhir. Selain rekomendasi beberapa teman, saya tergerak nonton karena pujian penyiar radio akan akting Adam Levine. Tidak salah memang pujiannya. Dialek Inggris Keira Knightley kental sekali, Catherine Keener menawan seperti biasa, dan kali ini saya senang menyaksikan Mark Ruffalo (ada di mana-mana!) memerankan ayah. Sudah umurnya, lah:p Lagu Maroon 5 yang berjudul Lost Stars membayangi kuping saya cukup lama seusai nonton ini. Ending-nya juga oke banget. http://www.youtube.com/watch?v=vyT-oGDnMqE   Men, Women, and Children http://www.youtube.com/watch?v=MHMqpwnUazY "Tumben nonton Adam Sandler," kata Masnya yang tahu persis saya suka jengah nonton film-film komedi Sandler yang slapstick dan ... gitu deh. Namun insting saya benar, film ini bukan komedi. Murni drama dan Sandler memerankan ayah yang bermasalah dalam rumah tangga. Ceritanya cukup "mencemaskan" tapi lumayan kekinian sehingga perlu ditonton bagi saya, menyangkut dahsyatnya dunia digital dan ponsel pintar di kalangan remaja. Saya baru ngeh kalau ada tiga gadis ngobrol sambil pegang ponsel, dua di antaranya bisa chat tentang yang satu dan mengatainya. Sesuai kebutuhan cerita, ada unsur-unsur "dewasa" yang ditampilkan tetapi dapat dikatakan lumayan sopan untuk film bertema sejenis. Rosemarie DeWitt berperan di luar kebiasaan, Kaitlyn Dever pun tidak serapuh dan semanis film-film terdahulu. Film ini bikin saya terpekur akan ringkihnya emosi manusia, terutama remaja, dan kaitannya dengan media sosial.   They Came Together http://www.youtube.com/watch?v=TPzHRXUcUWU Alasan utama saya nonton, ya Paul Rudd. Penceritaannya terkesan kurang masuk akal, yaitu kilas balik yang panjang dalam obrolan…

Kesan Rinurbad

What Happens In Vegas - 9.5
The Face of Love - 9.5
Begin Again - 8.5
Men, Women, and Children - 9.1
They Come Together - 8.5
A Long Way Down - 9
Woman in Black 2 - 5
The Good Lie - 9.5
Still Alice - 9.6
August: Osage County - 9.9

8.8

Seru

Lebih banyak yang "dapetnya", walau ada yang meleset juga.

User Rating: Be the first one !
9

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)