Tadinya tulisan ini mau dijuduli Red Romantic Touring, tapi kok kayak Red Riding Hood saja:D. Red karena tanpa sengaja, barang-barang yang kami bawa dan pakai mayoritas berwarna merah dan nuansanya, mulai dari jaket, carrier, Ceri Duo (netbook kami), sampai yang kecil-kecil. Kontras dengan tunggangan kami, seperti biasa motor bernama Si Ijo:)

Berikut catatan acak dari perjalanan yang sedikit berbeda daripada dua bulan silam dan berlangsung sejak 6-11 Juli tersebut:

1. Keberangkatan mundur satu hari dari rencana, karena mendadak Mama jatuh sakit. Agar pikiran tenang, saya diajak Mas Agus menjenguk lebih dulu. Mengurus keperluan Mama relatif cepat, justru yang membuat capek adalah perjalanan pergi-pulang total jenderal 4 jam. Bahkan sewaktu pulang, kami terjebak macet di perempatan Buahbatu sampai-sampai motor tak bisa bergerak. Luar biasa memang kepadatan lalu lintas Bandung di musim liburan panjang ini.

2. Karenanya, kami sama-sama berangkat dengan kondisi letih. Saya karena termakan kemacetan parah dalam jarak jauh di atas, Mas Agus karena habis kejar setoran sekitar satu bulan penuh. Dua minggu belakangan, malah dia tiga kali dipijat dan dua kali body painting (alias kerokan).

3. Dari segi lain, persiapan kami terbilang lebih matang. Contoh kecilnya, menyingkat waktu pada hari keberangkatan dengan keluar rumah pukul 7 pagi sehingga bisa sampai di tujuan (kediaman kakak, masih 20-an km dari kota Banjarnegara) pukul 18.30. Berkat usul Mas Agus mengurangi bawaan (baca: pakaian) dengan mencukupkan yang ada, saya sadar bahwa satu baju tidur saja cukup untuk sekian hari dan bahkan ada pakaian kami yang tidak sempat dikenakan walau tidak membebani/terlalu banyak juga. Selain itu, kami membayar dulu tagihan listrik, sampah, dan membereskan beberapa hal lain jadi pas pulang dalam kondisi kurang sehat begini tidak kewalahan amat:)

4. Karena keberangkatan bisa ditempuh dalam satu hari (tanpa bermaksud menyalahkan cuaca), jelas kami berhemat lumayan banyak. Dampaknya, di perjalanan pulang bisa menginap di hotel yang jauh lebih bagus dibanding biasanya (dengan standar kami tentu). Pengalaman baru yang kami sebut sendiri “Orang Gunung Saba Hotel” ini menggelikan. Kami cekikikan terus lantaran gagap kamar mandi kering, misalnya, juga kehilangan selimut yang biasanya tebal membungkus badan di rumah. Yah, namanya juga bepergian. Masa mau bekal selimut atau sleeping bag?:))

5. Sesuai hobi iseng saya, tiap berada di tempat baru, baik penginapan maupun rumah makan, saya suka mengamati pernak-pernik interior seperti cantelan lampu dan bentuk pintu. Lalu berkhayal bisa menerapkan di rumah.

6. Salah satu agenda utama yang membuat kami rela bepergian dalam jarak waktu berdekatan ini adalah pernikahan keponakan. Terlepas dari rasa bahagia saya dan Mas Agus atas peristiwa bersejarah dalam hidup ponakan tersebut, banyak hal yang tak luput menjadi catatan personal dari sebuah hajatan. Katakanlah, paras petugas katering kala mengumpulkan piring dan masih ada tamu yang cuek mengulurkan piring berisi nasi beserta lauk nyaris tak disentuh.

7. Lama tak menginjakkan kaki di wilayah sekitar tempat tinggal mertua, yakni kota Banjarnegara-nya, kian terasa bahwa di pedesaan lebih adem. Mbanjar sekarang ramai, saya melihat padang golf, beberapa toko komputer, kendaraan lebih banyak, dan otomatis cuaca pun lebih makin panas.

8. Kosakata saya bertambah, berkat ngobrol dan pasang telinga dengan beberapa ponakan berbagai usia yang tidak semuanya tinggal di mbanjar. Antara lain ndopok = ngobrol dan gigal (jatuh).

9. Entah mengapa, Carica khas Wonosobo yang tersohor itu terasa lain di lidah. Mungkin itulah tanda-tanda kesehatan saya kurang baik. Kala menyantap udang di Teluk Penyu pun, ada perbedaan rasa. Saya hanya menganggapnya penegasan bahwa tak ada yang benar-benar “abadi”. Semua bisa berubah.

10. Terkait ini juga, saya dan Mas Agus belajar sesuatu dari sebuah penginapan yang dulu kami pikir bisa didatangi berkali-kali. Gunung yang diselubungi kabut hingga kecantikannya tak terlihat sebenarnya merupakan firasat, tapi saya abaikan. Ternyata liburan panjang memang sangat berpengaruh. Suasana di penginapan tidak nyaman lagi, suara-suara dari kamar kanan-kiri yang berdempetan mengganggu istirahat kami, terutama Mas Agus yang sedang demam kecapekan. Kegaduhan sampai larut malam, handuk yang menciut, kamar yang menyempit, air yang kurang panas, hingga kami memutuskan pulang lebih cepat dan naga-naganya tidak akan menginap di sana lagi.

12. Dulu yang jadi “korban”, salah satunya sepatu sandal saya yang melar akibat dipakai berlapis kaus kaki dan tangan yang digerogoti semut ganas di Ciamis. Kali ini saya ketemu semut yang meninggalkan bekas lagi di Lumbir ketika melepas lelah akibat jalan masih berlubang-lubang, kemudian kami pulang dalam kondisi kurang fit karena flu. Memang begitu masuk Jawa Barat, mendadak langit mendung dan cuaca menjadi dingin. Stamina kami tidak prima, mudahlah kena meriang.

13. Saya mengalami hal yang sejak dulu dihindarkan/ditakutkan: datang bulan di tengah perjalanan. Rasanya aduhai sekali, migren dan diguncang jalan jelek atau berpolisi tidur agak tinggi.

14. Alhamdulillah kami tidak kehujanan. Kami nekat berangkat tanpa jas hujan, bahkan saya memakai jaket yang di Bandung saya sebut “jaket siang hari” karena bagian dalamnya dari kaus dan tidak bikin gerah.

15. Tubuh dan mata kami tetap bermusuhan dengan AC.

16. Pengalaman menyenangkan: jalan pagi ke Pasar Majenang bersama teman lama yang petani memandang hehijauan sawah dikelilingi pegunungan (entah apa namanya, teman saya pun tak tahu). Pasarnya besar, bersih, ramai, dan ada yang jual masakan matang:D Saking semangatnya, keringatan dan saya jadi rajin mandi:p

17. Pertemuan dengan teman lama masa kampus ini membuat kami sadar, alangkah jarangnya punya teman pasutri yang sama-sama cocok. Biasanya kalau bukan suaminya, ya istrinya saja. Di kalangan saudara pun begitu, kadang malah yang klop adalah saudara jauh seperti istri keponakan atau suami sepupu. Dugaan saya, komunikasi kami dengan dua sahabat ini terjaga baik antara lain karena tidak berkontak di medsos. Benar-benar mengandalkan dunia nyata.

18. Ketika menginap di rumah sahabat tersebut, saya sempat tak enak hati sebab rutinitasnya berubah. Biasanya dia santai tidur lagi usai subuh, kali ini dia mandi dan rapi pagi-pagi sekali, padahal saya tidak bermaksud begitu. Tapi kata seorang kawan baik yang saya ceritai, “Kadang tamu yang baik bukan semata membawakan oleh-oleh, tapi mengambil hati tuan rumah dengan tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya dan memakan hidangan/masakan yang disediakannya.”

19. Saya berterima kasih pada para bellboy, petugas room service dan kawan-kawan yang sering direpotkan untuk mengganti termos air panas, membuatkan teh manis pagi-pagi sampai malam, dan banyak lagi. Kesabaran mereka luar biasa.

20. Warung lesehan yang kami sambangi Mei lalu di Kroya sudah tutup. Sedih juga, lalu kami nahan lapar sampai Cilacap sebab lirak-lirik tenda pun jarang. Ada yang bertuliskan “Sabar Menanti”. Jadi menimbulkan praduga, deh:D

21. Banyak penunjuk arah/penanda jalan yang keliru atau kurang jelas. Di Tasik misalnya, masih bingung membedakan arah Garut dan arah Bandung. Terutama jika ingin ke Garut via Singaparna. Salah satu belokan, bisa melenceng lumayan jauh. Di Nagreg pun (entah kenapa ditulis Nagrek), saya melihat tulisan “Cileunyi 30 km”. Yang benar itu jarak ke Bandung. Cileunyi tak sampai satu jam dari situ, sudah termasuk macet di Rancaekek.

22. Masih banyak nama jalan yang “labil” dan membingungkan. Contohnya, Jalan Raya Genteng – Cimanggu. Tak sampai 2 meter, tertulis Jalan Raya Genteng – Majenang.

23. Senang sekali ketika menginap di Cilacap, sewaktu makan diiringi lagu-lagu Queen. Tayangan film juga begitu, seolah tahu selera kami:)

24. Pelajaran terbesar dari perjalanan kali ini: betapa berartinya punya tempat untuk pulang. Betapa pun acak-acakannya rumah kami, tetap paling nyaman dan bikin kangen.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)