[sws_green_box box_size=”100″]All things are difficult before they are easy [/sws_green_box]

 

Memulai memang sulit, sekalipun untuk melakukan hal yang disukai. Saya baru mengerti mengapa para editor in house kerap menanggung risiko “tertukar jiwa” karena menggarap lebih dari satu naskah dalam sehari. Bisa lokal dan terjemahan, bisa sama-sama terjemahan tapi satu teenlit Korea dan satu lagi novel Inggris thriller, sehingga membutuhkan penghayatan ekstra agar tidak terbawa gaya/suasana. Karena itu pula, Mas Agus biasa mengambil jeda beberapa lama apabila menggarap genre yang sangat bertolak belakang. Apalagi jika genre yang berbeda itu dikerjakan secara berturut-turut.

Seperti rekan editor dan proofreader satu ini, kami menyukai variasi sehingga tidak mengkhususkan genre tertentu. Toh tanpa spesialisasi pun, ada tantangan lain yang kendati tidak ringan, jadi jurus antijemu. Belum lagi gaya penerjemah yang beragam, akan dibahas di postingan terpisah.

Suatu waktu, saya baru selesai menyunting naskah “berat” berbau sejarah. Salah satu rambu buku nonfiksi adalah tidak kelewat “bebas” bergaya, karena mementingkan data dan fakta. Lain memang jika bukunya semacam memoar. Tidak lama setelah itu, saya menerjemahkan buku nonfiksi lain yang dipesani editor berbahasa cair dan sesimpel mungkin. Saya sering maju-mundur dan butuh waktu ekstra untuk memproses informasi kemudian mengolahnya. Sewaktu mengonsultasikan beberapa kosakata, editor berseloroh, “Itu sih bahasa birokrasi, Rin.” Jelas, harus saya ganti:D

Demikianlah teka-teki tersebut terkuak. Saya kira selama ini, penyebab utamanya adalah manajemen waktu atau pemecahan tugas. Karena sering “tancap gas” menjelang akhir naskah (sudah dapat feel-nya), di awal serasa merayap-rayap. Idealnya di awal itulah bisa mengalir, kemudian berhati-hati di tengah ke akhir agar grafik kualitas hasil tidak menukik. Rupanya peralihan genre turut berperan.

Jadi bagaimana kalau sering menghadapi transisi? Biasanya saya baca-baca buku yang senapas jika tak segenre, dengan yang akan dikerjakan. Pilih yang tipis saja agar tidak memakan waktu. Langkah lain yang juga membantu adalah nonton film yang bahasanya menunjang suasana naskah. Melakukan hobi seperti memotret pemandangan (Mas Agus bilang: Rinurbad si Pemotret Langit) mungkin tidak ada hubungannya, namun bermanfaat menjernihkan otak dan mengisi ulang energi untuk menyambut tantangan baru:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Transisi Genre ”

  1. gravatar SP Reply
    August 13th, 2013

    Baca komik! hahaha…

    • gravatar Rini Nurul Reply
      August 14th, 2013

      Lagi-lagi ketahuan:))

Leave a Reply

  • (not be published)