Seperti halnya penulis, penerjemah selaku seniman kata dapat mengalami benturan dalam pekerjaan. Ini menjadikan proses kerja melambat, bahkan menurun karena banyak terpaku pada naskah. Berikut beberapa temuan saya saat googling.

Di sana, dianjurkan menangani dengan langkah-langkah di bawah ini:
# Clear the decks. Get a cardboard box from your local supermarket and sweep all the clutter on your desktop into it. Everything. Keep only a keyboard, mousepad, mouse, one writing implement and your source text. Sit down: you are ready to roll.

Ini tergantung situasi. Adakalanya saya membereskan meja setelah satu proyek selesai, semata karena terlalu penuh dan ada beberapa benda yang tidak dibutuhkan dalam pekerjaan selanjutnya. Harus diakui, kadang ketika otak sudah sangat buntu, beberes adalah jalan keluar yang menyenangkan. Namun saya berusaha sedemikian rupa agar tidak kesulitan menemukan barang tertentu gara-gara terlalu rapi.

# Ease into the job. Try starting with an activity less stressful and more structured than translation per se. Example: terminology. Make a list of terms you will have to look up, and begin your working day with dictionary spadework and web searches. This should generate a lot of the raw material you will need when you settle down to do the real language transfer work.

Ini ampuh di masa lalu, saat saya belum akrab dengan komputer dan internet (masih menerjemahkan dengan PC jadul). Juga ada adik yang membantu membuka-buka kamus. Sekarang, langkah tersebut makan waktu. Namun mengalihkan pandangan sejenak dari layar monitor memang menyegarkan:)

# Read through each new source text the day it arrives, regardless of the deadline. You will have a better idea of what awaits you, and your mind will already be processing information and linking up ideas.

Ini cukup efektif, beberapa kali saya coba. Tentunya lebih afdol bila materi dalam bentuk hardcopy dan tenggatnya panjang.

# Longer term, look into sharing an office: having a quiet, businesslike place where somebody else is hard at work at a keyboard can get you into work mode, too.

Hehehe… rumah saya ini bukan main tenangnya. Saking senyap, lebih enak untuk tidur:D

# Tell people when you are busy on a job. Especially fellow translators. Tell them how long you think it is likely to take. The more people who know you are occupied through Thursday afternoon, the more guilty you will feel about not being busy doing it (massive guilt can also backfire, but it’s worth a try).

Rasanya para penerjemah dan editor bisa mengerti, karena mereka pun mengalami situasi sama padatnya:D

# Establish a work routine. The “freedom” of freelance life can become the freedom to push back the moment you head for the office until truly ridiculous hours, which is bad for your physical and mental health. Decide when you work best—crack of dawn? mid-morning? middle of night?—and reserve two 3-hour chunks of time at your computer around that window. Don’t let yourself skip those working periods. Ever.

Belakangan, ini berubah-ubah. Pagi yang biasanya paling cocok bercuaca sangat dingin, sehingga saya lebih banyak makan daripada bekerja. Distraksi pun lebih banyak di pagi hari, karena itu saya lebih berkonsentrasi pada sore atau malam hari. Tentu dengan catatan tidak turun hujan disertai petir (yang kedua ini bikin ketar-ketir), tidak mati lampu juga.

Kemarin-kemarin saya merasa paling produktif di akhir pekan, namun sempat mencoba mengondisikannya di hari “biasa”.

# Get a good night’s sleep. Fatigue—mental and physical—saps energy and interferes with your ability to concentrate. Take up a sport, preferably one that leaves you physically exhausted. You’ll sleep better.

Tak bisa diabaikan. Tanpa tidur, saya lemah lunglai.

Di situ, ada saran mengenai musik untuk memecah kejemuan. Agak sukar sebab saya menyukai suasana hening saat bekerja. Namun adakalanya saya memasang lagu favorit, I Will Survive-nya Cake atau lagu-lagu lembut untuk menangkal kebisingan dari luar rumah.

Menurut saya pribadi, siasat tertepat adalah mencari tahu jalan keluarnya. Jika tubuh letih, istirahat. Bila badan kurang fit dan mulas karena haid seperti saya saat ini, jawabannya pun istirahat kendati tak bisa lama-lama. Menjaga makanan dan pola tidur adalah kewajiban. Yang paling berat adalah bila pikiran kacau lantaran dilanda suatu masalah pribadi atau naskah sumbernya memang sulit, membutuhkan banyak riset atau perenungan cukup panjang guna mencerna satu kalimat/paragraf.

Saya suka membaca buku atau diskusi ringan di sela kerja, sambil berusaha tidak kebablasan. Kadang memang harus dipaksakan, walau pelan-pelan..karena menunda akan menimbulkan siksaan. Yang penting tumpukan sudah mulai berkurang, meski hanya satu halaman. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit itu benar adanya. Saya belajar lebih sabar, tidak ingin buru-buru selesai. Faktanya memang hasil tiap hari tidak selalu sama. Hari ini dapat 10 halaman, bisa saja besok hanya 2-3 halaman. Itu sangat lumrah.

Satu penyebab yang lumayan merintangi kerja tetapi relatif sukar ditumbangkan adalah penetapan standar hasil. Seiring bertambahnya pengalaman, kita ingin memberikan karya “sesempurna” mungkin. Justru itulah yang membuat kita terlalu keras, tidak puas, padahal yang dilakukan sudah benar. Seperti yang kita ketahui pula, mengejar ketiadacelaan ibarat meraih bayang-bayang.

Karena itu, mari berusaha sebaik yang kita bisa.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Translator’s Block ”

  1. gravatar nurcha Reply
    December 14th, 2010

    bu, ini ga bisa di sharing ke fesbuk ya.. :D. sangat bermanfaat banget untuk para penerjemah (saya juga). soalnya kalo lagi buntu ya bener2 parah buntunya rasanya kepala ga bisa mikir dan seperti kehabisan kosa kata …

    • gravatar Rini Nurul Badariah Reply
      December 14th, 2010

      Sudah, Nur. Tadinya ragu karena ini kayak curhat biasa saja..
      Kita senasib ya..sama-sama ngebul otaknya, hihihi.

  2. gravatar rahman Reply
    December 22nd, 2010

    salam kenal untuk semuanya.untuk mbak nurul badriah salam kenal ya.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 3rd, 2013

      Salam kenal, Mas.

Leave a Reply

  • (not be published)