Setelah berkali-kali membaca postingan favorit saya di blog Lulu, saya sadar bahwa transposisi bisa dikatakan ciri khas dalam terjemahan dan sebagian hasil suntingan saya. Gaya transposisi mendominasi hasil terjemahan saya baru-baru ini, relatif sedikit yang strukturnya setia.

Berikut beberapa contoh transposisi dan peringkasan yang saya nukil dari terjemahan yang terakhir terbit, The Night Gardener. Catatan: semua ini sebelum diperiksa editor.

She had been having a bad dream, that was all.

Mimpi buruk, hanya itu.

 

It was not a new dream; it was the same one she had been having every night since coming to the house.

Bukan mimpi baru; sama dengan yang dimimpikannya tiap malam sejak datang ke rumah ini.

 

She peeled back the covers and tiptoed across the cold floor.

Disingkapnya selimut lalu berjingkat di lantai dingin.

 

Her fingers found something dry caught in the tangles of her hair

Teraba sesuatu yang kering di belitan rambut—

 

At that very moment, a prickling sensation filled her ears.

Saat itulah, telinganya tergelitik.

 

Large houses were often drafty, but this was something different altogether—more like a quiet storm.

Sering kali rumah besar bergaung di sana-sini, tapi ini benar-benar lain—lebih menyerupai badai hening.

 

Jujur, kebiasaan ini membuat saya “gatal” ketika menghadapi buku yang dari sananya sudah gondrong dan merupakan gaya yang diwanti-wanti agar tidak diubah alias tetap berpanjang-ria. Juga ketika melirik terjemahan-terjemahan lama yang sebenarnya dapat dibuat lebih efektif:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)