bentangpustaka.mizan.com

Penulis: Herniwatty Moechiam

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, April 2009
Tebal: xii + 236 halaman

Harga: Rp 37.000,00

Kehadiran buah hati senantiasa menjadi saat-saat yang membahagiakan sekaligus mendebarkan. Sedari berbentuk fetus, orangtua mulai mengerahkan segala upaya untuk mempersiapkan kelahirannya agar tidak kurang suatu apa. Konsumsi nutrisi, kehati-hatian gerak, pengawasan secara medis, pemantauan terhadap bobot dan sebagainya. Semua dikarenakan ekspektasi akan putra-putri yang `sempurna’.

Saat Catra menunjukkan indikasi keberbedaan dengan kakak-kakaknya, sang ibu diselimuti keresahan. Usahanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada putra bungsunya mengalami berbagai rintangan, bahkan dari suami yang diharapkan dapat bahu-membahu menangani permasalahan. Bahtera rumahtangga keduanya justru tengah diamuk badai sehingga penulis harus memilah konsentrasi antara anak-anak yang membutuhkan perhatian serta hatinya sendiri yang terus bertanya-tanya penyebab sang suami berubah drastis. Pukulan paling telak adalah ketika ia menolak mendampingi Catra berkonsultasi karena ahli jiwa anak yang mereka temui mencium perseteruan pasangan suami-istri yang ditengarai akan berdampak negatif pada anak mereka.

Memoar Herniwatty Moechiam yang dipublikasikan lini Laskar Pelangi Penerbit Bentang ini menggulirkan problematika yang kompleks. Bukan semata menghadapi anak yang memerlukan atensi lebih banyak dan suasana membara dalam perkawinan, ia mengalami momen-momen menghempaskan yang membuatnya mempertanyakan keputusan sebagai mualaf. Penulis mengambil langkah besar tersebut dengan bercermin pada pengalamannya sendiri yang acap kali dilanda kebingungan karena orangtuanya berbeda keyakinan.

Penolakan berbagai sekolah terhadap anak yang `luar biasa’ sangat memedihkan hati. Di satu sisi, sekolah umum menyodorkan opsi SLB sebagai tempat paling cocok. Di sisi lain, pihak SLB justru menyayangkan jika Catra yang dipandang masih sanggup mengikuti ritme pendidikan di sekolah umum harus terkotak dengan anak-anak difabel lain. Kecenderungan meniru yang amat tinggi pada penyandang autisma mengharuskan mereka dijauhkan dari aspek-aspek yang dapat menggerus potensi perkembangan anak bersangkutan.

Salah satu peristiwa yang mengaduk perasaan adalah kala penulis terpaksa menggunakan pendekatan agama yang bernada mengancam agar taman kanak-kanak tetap mempertahankan putranya. Bila pihak sekolah berbasis Islam bersikeras menolak Catra, sang ibu akan mendaftarkannya di sekolah berlandaskan agama lain yang pernah ia anut. Ia memastikan bahwa Catra tidak akan mengalami kesulitan di sana, terlebih sebagai mualaf, dirinya masih mengingat betul prinsip-prinsip ajaran agama lain tadi. Gertakan tersebut membuahkan hasil, kendati sang ibu harus menandatangani surat pernyataan bahwa putranya tidak akan melanjutkan ke SD dengan kapasitas di bawah standar yang ditetapkan sekolah.

Namun Tuhan tidak tidur. Melalui orang-orang berbudi sebagai perpanjangan tanganNya, Catra dapat melanjutkan pendidikan. Perjalanannya menyesuaikan diri dengan sekolah baru dan teman-teman berikut aneka kebiasaan yang terbilang asing dipaparkan sang ibu dengan kalimat-kalimat yang sanggup meruntuhkan airmata. Catra mengalami kesukaran untuk memahami ekspresi orang lain, bahkan sempat diduga penyuka sesama jenis sehingga teman-temannya takut bergaul dengannya. Padahal setelah ditanya oleh sang ibu, remaja tersebut ingin berkenalan dengan pelajar putri tetapi minder dan takut ditampik.
Meski jelas-jelas mengupas pengalaman pribadi, kentara bahwa penulis tidak ingin mengumbar aib. Kala mengemukakan celah kelam rumahtangga yang pada suatu ketika terungkap musababnya, ia menggunakan sejumlah metafora. Penulis menularkan kelegaan dan keharuan pada pembaca saat selangkah demi selangkah melepas putra bungsunya menapaki kedewasaan. Buku parenting ini menyajikan pembelajaran berharga bagi setiap orangtua, bahwa bagaimana pun kondisinya, seorang anak harus diberi bekal agar dapat mandiri.

[rating=4]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)