Dulu nonton film ini di TV dan tidak pernah selesai karena kemalaman, banyak iklan.

Seperti biasa, saya tidak akan bahas cerita film lama begini. Yang saya ingat hanyalah Wesley Snipes dikejar-kejar karena tuduhan yang direkayasa dan dia punya pacar wanita latin yang cantik. Ternyata sepertinya Marie berdarah Prancis.

Sebagaimana kebanyakan film kesukaan saya, U.S. Marshals beralur cepat. Laga dan perkelahiannya bukan tanpa alasan, masih dirangkai cerita. Saya mengamati beberapa hal dan sempat ngobrol dengan Mas Agus tentang itu. Antara lain:

  1. Bagian dalam truk yang tampak nyaman. Mas Agus bilang, pasti ada karena untuk tidur. Tergantung sopirnya, bisa merawat atau tidak.
  2. Orang yang terpaksa berbohong dapat memberi kode ketika ditanya. Contohnya, memperlihatkan pakaian buronan yang bersembunyi di belakang punggung dia.
  3. U.S. Marshal yang berpengalaman tidak akan kalah insting meskipun sangat lelah dan mengantuk. Termasuk barang bukti berupa senjata yang bisa dicocokkan dengan peluru di tubuh korban tembakan lain.
  4. Masa lalu sewaktu-waktu dapat muncul kembali. Seorang mantan agen CIA yang harus menghilang dan menggunakan identitas baru kadang terpaksa mengingat pekerjaan lamanya itu. Di lain pihak, keahlian yang dimilikinya jelas sangat bermanfaat meski sudah beralih profesi. Katakanlah, seorang pengemudi yang dapat membuka borgol dengan tangkai kacamata sudah pasti bukan “orang biasa”. Di sini, kesepakatannya lumayan kejam. Bila ada ketidakberesan misi, si agen tidak boleh mengait-ngaitkan diri dengan badan yang menugaskannya.
  5. Yang satu ini sering tebersit di benak saya. Beberapa kali saya menonton adegan penumpang/pengendara mobil yang ikut tenggelam dalam kecelakaan. Apa pasal? Sabuk pengamannya sangat kuat dan sulit dibuka sehingga dia tidak bisa membebaskan diri.

Film ini jauh dari membosankan dan layak ditonton ulang. Saya baru ngeh, sudah lama tidak lihat penampilan Tommy Lee Jones lagi. Dialognya yang bikin senyum ketika anak buah mengeluh lelah karena sudah dua hari tidak tidur, “Stay on trail. Sleep next month.”

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)