This ain’t training. In training they just give you an F. Out here you get killed.

(Frank Barnes – Unstoppable)

Bagi saya, ada benang merah yang dapat ditarik dari keempat film yang didominasi karakter pria ini (baca: cowok banget). Sungguh menarik mengamati perwatakan dan permasalahan para pria yang menjadi tokohnya. Kalau boleh menyimpulkan, menurut saya pria sebenarnya sederhana dan mudah diselami asalkan kita mau mengerti.

Frank Barnes (Denzel Washington) dan Will Colson (Chris Pine) dalam Unstoppable sama-sama suami sekaligus ayah. Demikian pula Richie Roberts (Russell Crowe) di American Gangster dan Jack Halcombe (Nicolas Cage) di Frozen Ground. Di rumah, permasalahan mereka pelik. Di pekerjaan, tantangannya tak kalah besar. Alangkah sulit mengharmoniskan kedua sisi ini dan tetap bertahan meskipun dua-duanya bermasalah. Seperti Will yang divonis menjauh oleh hakim akibat tindakan yang dianggap istrinya “kekerasan”. Di tempat kerja, Will dipandang sebagai anak baru yang membahayakan posisi pendahulu-pendahulunya. Tergambar jelas bahwa perkara di rumah dapat mengisruhkan konsentrasi bekerja.

Di Unstoppable juga, saya belajar agar tidak “merecoki” diri dan pasangan dengan kekhawatiran berlebihan. Bisa jadi telepon tidak diangkat karena situasi tengah genting, apalagi dalam film ini pekerjaan Will sangat menantang maut. Tak urung saya mengomel juga ketika Connie (Rosario Dawson) malah menelepon Ned yang tengah memacu mobil.

Dukungan orang terdekat sangat penting ketika ingin menjadi orang berdedikasi pada profesi tertentu. Sersan Halcombe bertengkar dengan istrinya mengenai rencana mereka pindah yang tertunda. Sudah barang tentu sebagai penegak hukum, Halcombe lebih sering di luar rumah dan menantang bahaya. Demikian pula Richie Roberts. Dia sampai harus mengorbankan keluarga karena dianggap tidak pantas membesarkan anak. Ini terlepas dari hal-hal lain yang membuatnya digugat cerai oleh sang istri.

Tak ketinggalan Ben Randall (Kevin Costner) dalam The Guardian yang berkomitmen pada pekerjaan. Ada ucapannya yang berkesan meski saya tidak ingat persisnya, “Suatu ketika dalam tugas, kulihat pasangan suami-istri melawan maut. Suaminya berusaha mengapung dan tak mau melepaskan istrinya. Lama baru aku sadar, laki-laki itu adalah aku.”

Singkatnya, drama kriminal, thriller, dan film laga sekalipun bisa memberi “penerangan lebih” bagi saya. Bukan sekadar ingin seru-seruan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)