Salah satu permasalahan yang acap dikeluhkan peminat profesi editor dan penerjemah lepas adalah merasa belum dikenal sebab belum pernah menyunting.
Lowongan editor dan penerjemah lepas tidak selalu dipublikasikan, kadang hanya dari mulut ke mulut karena satu dan lain hal. Di sinilah perlunya Anda kreatif “menciptakan” kesempatan.
Bukan dengan menanyakan di kolom komentar informasi lowongan (editor) in house, “Bisa freelance, nggak?” Ini sering saya temukan namun bisa dikatakan jarang berhasil membangun jejaring baru.

Untuk editor buku terjemahan

Waktu “kosong” dapat dilakukan dengan berlatih, utamanya bila hasil terjemahan dan editan Anda (yang bisa menjadi bahan pertimbangan) masih sedikit dan bahkan belum ada yang terbit.
Ibarat atlet dan seniman, otot-otot menyunting perlu diasah terus barang sejenak tiap hari. Tulis latihan pendek-pendek itu di blog, yang bukan rahasia lagi, dapat menjadi perangkat promosi diri.
Sangat dianjurkan terjemahan yang dicontohkan adalah hasil berpikir sendiri, bukan materi garapan orang lain yang sudah terbit.
Sekiranya bahan belajar Anda berupa buku asli dan buku terjemahannya, hindarilah berkomentar negatif. Caranya:
1. Cari contoh yang memuaskan dan dapat dijadikan acuan, yaitu dari terjemahan yang bagus dan luwes.
2. Andai bermaksud mengomentari terjemahan yang kurang baik, disarankan tidak menyebut judul buku, penulis, dan penerjemah/penerbitnya. Pasalnya, motivasi belajar (juga dari yang membaca) bisa tergeser menjadi “penghakiman” karya seseorang atau hasil kerja penerjemah lain.
Sungguhpun Anda tidak bermaksud demikian, OOT di dunia maya semudah berubahnya cuaca cerah yang terik menjadi hujan lebat di masa pancaroba.

Bolehkah mengambil sumber dari terjemahan teks film? Tentu. Acap kali dari film, ada contoh-contoh yang dapat diterapkan dalam penyuntingan buku terjemahan. Misalnya saya pernah menemukan Excuse me diterjemahkan pas dengan konteks, yaitu “Maaf?” bukan “Permisi.”
Mengkritik di blog sendiri memang hak setiap blogger, namun saya pribadi lebih menganjurkan menyebarluaskan contoh yang baik dan layak ditiru. Sudah terlalu banyak pemerian contoh kekeliruan yang, terlepas dari manfaatnya, membanjiri internet bak polusi udara. Dengan kata lain, mengimbangi kritik (pedas) bertebaran itu menyampaikan pesan dan kenyataan bahwa terjemahan bagus bukannya tidak ada, bahkan cukup banyak.

Opsi lain, membahas berita perbukuan, film yang diangkat dari buku (berbahasa asing), kamus yang dianggap andal. Ini salah satu artikel yang menarik.

Untuk editor buku lokal

Poinnya sama dengan di atas, bisa dari tulisan sendiri (yang sudah lama atau tidak jadi diterbitkan) atau tulisan orang lain namun sedapat mungkin disamarkan. Berfokuslah pada masukan konstruktif, bukan mencari-cari kesalahan atau menuding, “Barangkali penulisnya buru-buru atau malas riset.”

Penyuntingan tidak berarti mesti mengoreksi terus-terusan, kita bisa saja membahas kata dan aneka perniknya yang menarik. Tunjukkan minat Anda dalam keberbahasaan dengan menuliskan buah pikiran tersebut, misalnya seperti ini (walau penulisnya sudah menjadi editor).
Kemudian sebarkan link-link tulisan tersebut. Selalu ada kemungkinan pihak penerbit berkunjung ke blog kita kendati tidak meninggalkan jejak.

Tidak ada salahnya menawarkan jasa secara etis dan proporsional di blog atau menerima order menyunting karya kenalan sendiri.

Kadang-kadang ada penulis yang ingin merapikan naskah sebelum menerbitkannya, bahkan sebelum mengajukan ke penerbit. Ini menjadi bekal berharga sebab editor buku lokal freelance pun kadang perlu berdiskusi dengan penulis sewaktu bekerja. Hitung-hitung pemanasan:)

Untuk penerjemah buku

Tulisan pendek-pendek yang dapat mempromosikan pengetahuan menerjemahkan Anda misalnya seperti ini. Ini berlaku untuk bahasa apa saja yang Anda kuasai, termasuk non Inggris seperti bahasa Jepang. Boleh-boleh saja menulis postingan blog dalam bahasa asing, namun hendaknya tidak mendominasi isi blog kecuali Anda berkeinginan menjadi penerjemah bahasa Indonesia-Inggris misalnya. Bagaimanapun menerjemahkan menuntut kecakapan bahasa sasaran yang sebanding, otomatis mengalihbahasakan Inggris-Indonesia atau Prancis-Indonesia mengharuskan kita menguasai bahasa Indonesia dengan baik pula.

Catatan: Saran-saran ini bukan berarti setelah “resmi” menjadi penerjemah dan/atau editor lepas, blog dihentikan. Menulis blog merupakan salah satu media melatih penyusunan kalimat yang logis, luwes, dan sistematis sehingga perlu dirawat dan dibiasakan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)