Seiring perkembangan dan perubahan, saya baru bisa merumuskan beberapa hal yang menjadikan perkara keuangan ini tidak kelewat memusingkan. Secara relatif menurut kami, tentunya:)

1. Menghindari utang. Ini prinsip yang sudah dikomitmenkan sebelum menikah. Bukannya kami tidak pernah sama sekali. Dulu kami sempat mencicil motor dan rasanya… cukup berat. Harus diakui, butuh tekad kuat guna disiplin menyisihkan langsung pos membayar angsuran yang bagi kami besar itu setiap bulan. Maka begitu ada rezeki sehingga bisa melunasinya lebih awal, kami tidak berpikir panjang. Leganya minta ampun:D

2. Saat mempersiapkan sesuatu yang sifatnya “menikmati”, seperti hobi saya makan, diusahakan tidak ada “penyesalan”. Istilah Mas Agus, “Kita kan mau menikmati, bukan menghitung.” Tentu saja ini ada batas-batasnya. Semisal, kami tetap lebih suka datang ke tempat makan yang di daftar menunya ada harga.

3. Ketika ada pengeluaran yang sifatnya “sudah kewajiban”, semisal membayar SPP, kami sebisa mungkin tidak mengeluh, “Pusing cari uangnya.” Entah mengapa, bagi kami itu seperti “memampetkan rezeki”. Kurang enak saja kedengarannya, terutama jika kami jadi anak lalu mendengar keluhan semacam itu, pasti merasa membebani. Padahal itu sudah tanggung jawab. Kami mengganti dengan, “Alhamdulillah bisa bayar SPP, bisa bayar listrik, bisa beli bensin nonsubsidi.”

4. Untuk pos lain yang sifatnya memberi, semisal mentraktir jajan keponakan, tidak dicantumkan dalam catatan pengeluaran.

5. Bila ada rezeki lebih, bayar cicilan rumah atau iuran yang sifatnya tetap jumlahnya beberapa bulan sekaligus. Insya Allah, hati lebih tenang:)

6. Sebisa mungkin tidak panik menghadapi kenaikan harga. Saya masih berusaha menerapkan komentar kalem Mas Agus, “Ada uang beli, gak ada uang ya diem.”

7. Ini trik klise, kalau turun gunung diupayakan ke beberapa tempat sekaligus. Capek, tapi hemat. Biarpun motor bukan angkutan umum dan relatif lebih fleksibel, dihindari juga menempuh rute yang “membelot”. Biasanya kami merencanakan arah sebelum bepergian, meski tidak saklek karena kadang ada kejutan seperti berita mendadak di jalan atau ternyata macet di luar dugaan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)