Cover-Pesona-Penyikap-Makna-half

Yang saya senangi dari menjadi kontributor buku kompilasi semacam ini adalah kesempatan membaca tulisan para kontributor lain yang sangat berwarna-warni. Malah saya lupa tulisan sendiri yang hanya semata wayang itu. Topiknya bukan sesuatu yang baru. Bahkan saya lupa mengutip ucapan Indra di salah satu alinea.

Seperti biasa, di sini tertuang cerita atau pengalaman penerjemah dari berbagai ceruk profesi. Ada penerjemah hukum, juru bahasa, penerjemah in house, ditebari sejumlah puisi yang menarik. Salah dua yang membetot perhatian saya untuk membaca ulang adalah tulisan Ibu Istiani Prajoko berisi saran untuk penerjemah pemula dan tulisan Ikram Mahyuddin ihwal memanfaatkan Google dan kiat-kiatnya.

Sebagaimana buku Bahtera yang sudah-sudah, selalu ada yang membuat saya senyam-senyum. Di antaranya tulisan Sofia Barata yang berjudul Translators are Failed Writers?:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”halaman 152″ quotestyle=”style02″]As a translator of legal documents, I find translating novel is more complicated than translating legal documents. Once, I encountered a novel that meticulously uses the word “trifle” with its various meanings. It took me days to ponder in finding the perfect word without losing the sense of humour in the book. [/sws_blockquote_endquote]

Demikian pula cerita Slamet Hartadi, Malam-malam di Gunung Berbatu (hal. 148). Mengapa saya terkekeh-kekeh membacanya, silakan Anda tebak sendiri.

Suatu kehormatan karena beberapa postingan blog Catatan Penerjemahan, termasuk yang saya tulis, juga ada di buku ini.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)