sumber: Goodreads

Judul: Metropolis, Demi Ayahku yang Sudah Mati

Penulis: Windry Ramadhina

Penerbit: Grasindo

Tebal: 331 halaman

Cetakan: I, 2009

Beli di: Gramedia Merdeka, Bandung

Harga: Rp 54.900,00

Enzim Wajah Sampul

Bisa dikatakan, novel ini satu dari tidak banyak buku yang ‘menjerat’ saya dari sudut tampilan kulit luarnya. Senyawa judul singkat yang mengundang rasa ingin tahu dalam dosis tinggi beserta gambar-gambar yang terhidang di sana mendentingkan semacam lonceng bahwa Metropolis layak dikonsumsi.

Menyimak bab pertama, muncul dugaan bahwa Metropolis bukanlah kata sifat yang menggambarkan hiruk-pikuk keseharian kota besar semata, melainkan menyangkut kepolisian. Tetapi lambat-laun terungkaplah bahwa Metropolis adalah sebuah pub, tempat saya dan juga Anda – para pembaca lainnya – dapat menemukan karakter-karakter yang membiakkan cerita, antara lain Bram, Aretha, dan Miaa.

Protein dalam Pembuluh Kisah

Fiksi yang tidak bertutur melulu soal cinta dan melodrama relatif jarang di etalase perbukuan kita. Penulis wanita yang mampu menghayati karakter pria pun sukar dijumpai. Windry Ramadhina adalah satu dari yang sedikit itu. Ia mengajak kita menelusuri sendi-sendi jaringan bisnis narkoba dari dalam. Polisi yang tak kunjung membekuk tersangka demi hasrat menggulung seluruh sindikat meski bukti ada di tangan, negosiasi dari informan ke informan, persekutuan yang menyamarkan penegak hukum dengan pelaku kriminal, dipaparkan dengan deskripsi prima yang mengingatkan pada film-film mafia berikut zat kegelapan dan ketegangan. Tak ada komponen yang patut ‘dipinggirkan’, misalnya Indira yang merupakan sumber penawar sakit dalam tubuh Johan Al dan Erik yang dinamai seperti lelaki kendati ia wanita tulen.

Dialog karakter satu dengan lainnya dikomposisi secara tidak biasa, misalnya ketika seseorang telah berada di ujung maut, menunjukkan kerja keras penulis untuk menghimpun karya yang sama sekali berbeda dengan Orange – novel terdahulunya sebagaimana diungkapkan dalam blognya ini. Oleh karena itu, sejumlah typo yang terserak [contohnya ‘konseksi’ di halaman 110, yang kemungkinan besar meleset dari ‘koneksi’] tidak menimbulkan efek samping yang membuat saya tersendat mencerna. Bahkan terasa mengasyikkan menyantap aneka pengetahuan perihal ST1571, obat kanker kronis yang sangat mahal sehingga penyakit ganas ini tak kunjung berhasil diperangi. Kemudian mengenai air yang merenggut nyawa seseorang bila disuntikkan ke dalam pembuluh darah serta masih banyak lagi informasi lainnya.

Sebagai seseorang yang pernah berprofesi sama, ia tahu polisi kerap melakukan hal semacam itu ketika mereka gagal menangkap pelaku kejahatan yang sebenarnya, semata-mata supaya mereka tidak kembali ke kesatuan dengan tangan kosong dan setidaknya punya sesuatu untuk dilaporkan kepada atasan mereka. [hal. 73]

Bahasa yang dijadikan alat tutur Windry dalam novel ini pula amat cair, seperti kata-kata umpatan yang mendaerah dan analogi yang cukup jarang dipakai:

Suara ibu kosnya terdengar melengking seperti suara tupai-tupai dalam film kartun Amerika. [hal. 64]

Sudah sering Miaa mendapati makian semacam itu, tapi ia maklum saja karena ibu kosnya memang tidak bisa hidup kalau tidak mengomeli orang barang sehari sekali. [hal. 65]

Kelenjar Penghujung

Metropolis adalah fiksi kriminal yang tidak tergolong whodunit, kendati di muka sempat terbetik pertanyaan mengenai pembunuhan sejumlah pemimpin Sindikat 12. Novel ini lebih cocok dikategorikan sebagai inverted detective story atau howcatchem, kendati memang masih menyisakan misteri yang merupakan urat nadi penyelidikan Bram dan Erik.

Bagi sebagian orang, ending Metropolis bisa jadi ‘kurang memuaskan’. Namun sesungguhnya hal ini menunjukkan fenomena kelam sindikat narkoba di Indonesia sebagai salah satu rongga kejahatan yang sangat sulit dipatahkan. Maka lebih dari sekadar patut jika novel ini disemati empat bintang, sebagai bacaan yang adiktif tetapi tak mematikan.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)