mizan.com

Penulis: Prie GS

Penyunting: Anwar Holid

Penerbit: Bentang, April 2013

Tebal: xiv + 238 halaman

 

Buku ini dilabeli “Sosial-Budaya”, bukan “motivasi”. Memang sudah bertebaran benar buku bergenre motivasi, kendati ada sebagian kalangan yang berkomentar miring, “Praktiknya tidak semudah itu.” Inspirasi bisa dipungut dari mana saja, sebagaimana dibuktikan buku ini. Cerita-cerita ringan Prie GS yang kerap saya simak di blognya justru menambah ketertarikan untuk menyimak karya pendiri Komunitas Telat Mandi tersebut.

Belum-belum, saya sudah tersenyum membaca petikan sinopsis,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style02″] Penulis yang tidak menulis sama saja dengan suami yang tidak mencintai anak-anak dan istri. [/sws_blockquote_endquote]

Saya tidak mau meributkan kesan “patriarki” dan seterusnya. Wajar saja diungkapkan begitu, wong penulisnya pria kok:) Analoginya tetap unik di mata saya.

Adakalanya tulisan terasa terlalu pendek, meski tidak terasa “menggantung”. Di sela beberapa topik yang tidak ringan, namun tetap implisit dan halus, saya berkeyakinan akan menemukan sesuatu yang berbeda dalam buku ini. Benar saja, saya tergelak-gelak (mungkin tertohok) membaca sbb:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style03″]Ada kalanya malu lebih menakutkan ketimbang sakit. [/sws_blockquote_endquote]

Seperti istri penulis, saya mengalami hal yang mirip. Waktu itu saya sedang kurang sehat dan hampir jatuh di tangga pertokoan. Suami khawatir, bertanya apakah ada luka dan sebagainya. Saya malah sibuk memastikan tidak ada yang melihat saya jatuh, lalu buru-buru meninggalkan tempat itu. Sungguh saya masih harus belajar mengutamakan yang lebih penting daripada perasaan, di kala-kala yang tidak perlu:D

Saya sempat berkerut kening membaca pembukaan Anugerah Cicilan (hal. 98). Namun tergelak lagi menyimak,

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style04″]Di dunia ini tidak akan ada bank yang sanggup berdiri jika seluruh nasabahnya menarik dana bersamaan. [/sws_blockquote_endquote]

Jujur, di masa-masa subur keluhan ini (termasuk saya selaku partisipannya), belum pernah itu terpikir oleh saya. Dengan tulisan tersebut, saya paham bahwa mencicil rumah bukan berarti kurang mampu dibanding yang beli tunai. Justru lebih, sebab bagaimanapun cicilan mengandung bunga yang tidak kecil. Prie GS menutup dengan “sentilan” lain:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style05″]Kalau seluruh rezeki disampaikan hanya dalam satu termin, turun sekali pada hari ini, saya pasti akan menjadi gila karena tak ada perangkat di dalam diri saya untuk kuat menampungnya. [/sws_blockquote_endquote]

Benar juga. Kenapa saya gemar sekali tergesa-gesa, buru-buru, tidak pernah menikmati menit ini atau detik ini dengan tenang?

Hal lain yang mungkin pernah diungkapkan menjadi tidak klise ketika diutarakan oleh penulis. Topik “ringan” yang sebenarnya akrab dan membuat saya manggut-manggut.

Betul banyak orang butuh nasihat, tetapi sepanjang ia tidak meminta, ia setara dengan tidak butuh. Mengaku butuh secara terbuka adalah sebentuk kerendah-hatian.

… Begitu pula dengan peminta nasihat jenis ketiga. Jenis ini biasa menyodorkan cerita duka dan kemalangan, lalu ia butuh jalan keluar atasnya. Awas jangan terkecoh, ia sebetulnya tidak sedang benar-benar butuh jalan keluar. Karena apa pun jalan yang Anda sodorkan, tak akan ia lewati. Orang ini tidak sedang butuh jalan, tetapi hanya butuh pembenaran. Mungkin kemalangan yang ia sodorkan itu hasil kesalahannya sendiri dan ia tahu itu, cuma malu mengakui.

(hal. 115-116)

Saya merasa punya teman ketika penulis membahas tidur dan bangun pagi sekalipun. Betapa bangun pagi menentukan keseluruhan hari, kecuali saya mampu mengolah emosi agar tidak terlarut dalam kejadian “sepele” yang mengeruhkan hati. Kalau saya kutip semua yang disukai dari buku ini, bisa habis isinya dan ulasan cerita ini nanti melulu mengandung kutipan.

Terima kasih Pak Prie, kalau memang ada humor di buku ini, itulah gelitikan yang membuat saya menertawakan kekonyolan sendiri.

 

Kebutuhan saya yang paling mendesak dari bepergian ternyata adalah pulang.

(hal. 87)

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Waras di Zaman Edan ”

  1. gravatar tria ayu k Reply
    May 29th, 2013

    quote penutupnya itu, jadi inget ‘kau tahu siapa’. itu sebabnya memang, kita harus lebih sholeha :))

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 29th, 2013

      Dan sungguh terlambat aku menyadari siapa ‘yudonohu’ ini:))
      Baiklah, akan kuusahakan semoga bisa konsisten:D

Leave a Reply

  • (not be published)