Sebelumnya, saya tidak ingin membahas atau memicu perdebatan bahwa buta warna sangat jarang dialami perempuan. Baru-baru ini saya tahu menderita (sebenarnya nggak menderita juga sih, biasa-biasa saja:p) buta warna parsial tingkat minor. Ini sih istilah ngawur saya. Intinya saya kesulitan membedakan campuran/turunan merah dan kuning. Bukan “sekadar” seperti yang dituduhkan umum pada orang Sunda karena suka menyebut biru “hejo” (hijau).

Di luar merah dan kuning sekalipun, saya sering pusing membedakan kombinasi yang menghasilkan warna-warna labil semacam toska, pirus, dan sejenisnya. Apa daya, dalam pekerjaan ini tak terelakkan. Pagi ini saya bertemu “turquoise” dan timbul pertanyaan, “hijau kebiruan” atau “biru kehijauan”? Melihat gambarnya sama sekali tidak membantu.

Alhamdulillah, saya menemukan daftar ini. Seru juga padanannya, seperti “tangerine” jadi “hijau jeruk kepruk”. Apa itu jeruk kepruk? Saya lihat di Google sih jingga. Atau kuning?

Semakin jelaslah mengapa saya tidak sukses belajar mendesain web sekian tahun ke belakang. Semula blog ini pun berwarna hitam dan abu-abu, warna teraman sekaligus favorit saya. Namun dikarenakan latar hitam kurang bersahabat untuk postingan panjang, saya menurut saja diganti putih:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Warna Labil dan Buta Warna Parsial ”

  1. gravatar Aini Reply
    November 22nd, 2013

    Wah, ini sangat penting 🙂 TFS, Mbak 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 23rd, 2013

      Oke, Nui:)

  2. gravatar Nita Reply
    November 24th, 2013

    Waah, ada foto si Yellow cs 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      November 27th, 2013

      Iya Mbak, untuk contoh:)

Leave a Reply

  • (not be published)