goodreads.com

Penulis: Mary Higgins Clark

Penerjemah: Rina Buntaran

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 1996

Tebal: 288 halaman

 

Semula, saya mengira plotnya akan berulang-alik. Meskipun itu salah satu jurus pembangun ketegangan yang cukup familier, saya pikir akan lumayan capek bertegang-tegang sambil mencoba mengingat ini kapan dan di mana, si anu sedang umur berapa dan berprofesi apa.

Syukurlah MHC mempermudah pembacanya. Kadang-kadang saja sudut pandang beralih, membuat saya paham mengapa novel ini dilabeli cerita detektif dan misteri. Memang banyak orang, termasuk pihak kepolisian, merubung Nancy Eldredge ketika masa silamnya terkuak dan kejadian pahit yang membuatnya trauma terulang. Dua anaknya hilang. Mengingat masa lampau pula, Nancy dituding sebagai pelaku.

Layaknya kebanyakan kisah thriller, ada profil psikiater di sini untuk membantu memecahkan misteri seram dalam tempo singkat kendati polisi menyebutnya membuang-buang waktu. Pesan-pesannya sebagai berikut:

  1. Jangan abaikan keterangan sekecil apa pun
  2. Jangan mudah menyebut anak-anak mengarang cerita, sekalipun tentang orang yang sudah meninggal
  3. Mengingat itu menyakitkan, tapi ada detail yang bisa jadi amat penting
  4. Percayai firasat, kadang “menyamar” sebagai rasa tak enak hati ketika berada di suatu tempat

Mungkin ada yang mengatakan MHC menulis mirip-mirip satu sama lain, namun menurut saya ia mengolahnya dengan amat terampil. Ketegangan tercipta sempurna, saya hanya butuh beberapa jam untuk menamatkan baca tanpa bisa menebak pelaku kejahatannya.

Skor: 4,5/5


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)